Spread the love

Pengasuhan memiliki dua pilar yaitu aturan dan tradisi. Pengasuhan bisa didefinisikan sebagai aturan yang menjadi tradisi atau mentradisikan aturan yang kemudian akan dilanjutkan oleh pewarisan tradisi. Tradisi akan diwariskan dari orang tua kepada anak dan dari generasi yang satu ke generasi berikutnya.

Rumusan tentang aturan dan tradisi dibangun dan dapat disimpulkan dari hasil kajian tentang proses dan pola asuh yang ada dalam institusi keluarga berdasarkan bacaan sejarah asal muasal keluarga (the origin of family). Keluarga yang merupakan anggota dari unit yang paling pertama dari sebuah masyarakat.

Keluarga menjadi lembaga sosial yang paling pertama. Di dalam lembaga sosial ada aturan yang dalam bahasa lain dikenal dengan norma dan nilai. Di dalam sebuah keluarga akan ada aturan baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis.

Di dalam ilmu sosiologi, norma adalah aturan yang tidak tertulis. Sedangkan aturan yang tertulis dinamakan sebagai hukum. Akan tetapi dalam konteks pengasuhan bahwa aturan keluarga bisa saja tertulis dan bisa juga tidak tertulis. Aturan ini akan berkembang dalam aktifitas kegiatan berumah tangga.

Ketika aturan-aturan ini sudah berlaku di dalam kehidupa sehari-hari dan kemudian membentuk suatu pola yang sudah menjadi kebiasaan maka aturan ini akan menjadi tradisi keluarga. Keluarga akan memiliki ciri khas antara yang satu dengan yang lainnya.

Identitas khas keluarga ini sudah seharusnya nampak dan menjadi ciri untuk bisa dibedakan antara keluarga yang satu dengan yang lainnya di lingkungan masyarakat. Misalnya, ada keluarga penghafal Al-Qur’an yang sebelumnya ada aturan-aturan yang berlaku untuk dapat menghafalkan Al-Qur’an. Ada juga keluarga pedagang, petani, guru, dan lain sebagainya. Yang masing-masingnya berawal dari kebiasaan bersama pada suatu keluarga yang dijalankan terus-menerus sehingga menjadi satu kesatuan kebiasaan yang disebut sebagai tradisi.

Ketika sebuah keluarga sudah memiliki aturan maka aturan ini harus diberlakukan dan ditegakkan. Untuk itu ada yang dinamakan reward and punishment dalam pemberlakuan aturan-aturan keluarga tersebut. Tanpa proses penegakkan aturan ini maka konsep aturan keluarga tidak akan terwujud.

Contohnya ada tradisi yasinan atau maulidan yang dilakukan secara turun-temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya yang aturan ini dilakukan pada moment-moment tertentu yang sama-sama sudah diketahui oleh anggota keluarga. Ada juga tradisi tasyakuran sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat dan keberkahan yang di dapat suatu keluarga.

Dalam prosesnya orang-orang yang memberlakukan aturan ini akan terbiasa dan tidak lagi menganggap adanya reward and punishment atas aturan-aturan yang ada di keluarganya. Kemudian ada amar makruf nahyi munkar dalam pemberlakuan aturan keluarga.

Jika dakwah bisa dilakukan oleh siapa saja, maka amar makruf nahyi munkar hanya bisa dilakukan secara struktural. Dan orang tua memiliki peran untuk menjalankan proses amar makruf nahyi munkar ini. Perintah khsusus yang diperintahkan untuk menanggapi satu fenomena atau realitas yang tidak sering dan tidak selalu dihadapi terjadi.

Seperti menolong dan menengok orang sakit, mencegah dari permainan-permainan tertentu, bergaul dengan orang-orang tertentu yang dikenal, menghalangi atau melarang permainan-permainan tertentu di waktu-waktu tertentu (ketika musim hujan tidak boleh main di sungai). Amar makruf nahyi munkar adalah perintah dan aturan yang temporer dan harus dijalankan. []

Oleh: Muchamad Ridho Hidayat