Connection Before Correction

0 0
Read Time:4 Minute, 31 Second

Oleh: Eva Rahayu

(Redaktur Portal KeluargaMuslim.Org)

 

Ada salah satu prinsip dalam pengasuhan yang diistilahkan dengan “connection before correction” alias terhubung lebih dahulu sebelum lakukan koreksi. Misalnya anak kecewa kemudian tantrum, menangis kencang guling-guling karena keinginannya tidak terpenuhi. Apa yang harus dilakukan?

Alih-alih langsung memarahinya, menyuruhnya diam sambil mengancamnya –karena sebenarnya diri kita merasa terganggu–? Atau malah mengabaikannya dan membiarkan sendiri, sambil berharap segera ada yang akan mendistrak perhatiannya hingga perasaannya berubah arah? Dua hal yang sama-sama tidak tepat.

Prinsip connection before correction harus dipakai di sini. Orang tua harus terhubung dulu dengan emosi atau perasaan anak dan memahami dulu kondisi dan duduk permasalahannya, baru kemudian bisa menenangkan dan membimbing anak.

Namun, yang harus diingat adalah ada hal paling mendasar yang harus kita lakukan terlebih dulu. Sebelum bisa terhubung dengan anak, orang tua harus menetralisir hatinya sampai tidak lagi merasa terganggu dengan tantrum anaknya alias tidak lagi terpantik emosinya karena teriakan-teriakan atau tingkah anak saat tantrum terjadi. Saat itulah orang tua baru benar-benar siap memberikan sepenuh perhatian dan waktunya untuk menolong anak.

Orang tua bisa menguatkan diri dengan menarik napas dan menghembuskannya sambil berkata dalam hati, misalnya, ‘It’s ok, anakku lagi kecewa, lagi tantrum, aku harus hadir utuh untuknya. Mungkin butuh waktu 30 menit sampai satu jam, it’s ok.

Atau saat punya bayi yang rewel karena sedang kolik misalnya. Orang tua bisa menenangkan dan menyiapkan diri dengan menerima kemungkinan-kemungkinan yang ada. Misalnya jika harus terjaga semalaman untuk menemani bayi. ‘Oke, berarti saya harus begadang malam ini.’

Mungkin saat kita menenangkan diri, tantrum anak akan lebih menjadi. Tapi tenang saja, anak bisa menunggu. Proses mengamankan diri sendiri ini adalah anak tangga pertama yang harus dilewati, lewati tahapannya satu persatu.

Memvalidasi dan Merilis Emosinya

Langkah berikutnya setelah orang tua tenang dan siap adalah memvalidasi perasaan anak dan merilis atau mengalirkan emosinya.

Sebagaimana kita tahu bahwa saat emosi manusia memuncak, maka kemampuan berpikir manusia terbajak. Maka, alirkan dulu emosinya hingga tenang dan pikirannya bisa bekerja kembali.

Cara untuk memvalidasi emosinya, yakni menunjukkan bahwa kita menerima segala perasaannya. Tidak perlu pertanyaan kenapa dan kenapa. Karena hanya menambah beban mentalnya, ingat, pikirannya sedang stuck.

Peluk saja dulu jika anak memang mau dipeluk. Pelukan seringkali mampu menjadi obat yang menenangkan. Biarkan ia menangis sesenggukan, kemudian tidak lama akan mereda dengan sendirinya. Atau ajak anak duduk, beri minum dan bimbing untuk beristigfar dan membaca ta’awudz. Jika agak berat, ajak untuk rebahan dan bimbing untuk menarik dan menghembuskan napas sampai napasnya teratur. Kemudian ajak membaca istigfar dan ta’awudz.

Jika emosi masih terlihat pada roman wajahnya, anak bisa diajak untuk berwudhu, shalat, ditemani jalan berkeliling kompleks atau berolahraga. Bergerak bisa membantu merilis emosi.

Di sini anak sebenarnya sedang belajar untuk mengenali dirinya. Ia mengenali emosinya dan berlatih untuk mengelolanya secara terkendali.

Atau jika anak masih tidak mampu bicara, kita bisa menebak emosinya dengan membaca raut wajah dan bahasa tubuhnya. “Kamu sedih kepingin mainan itu tapi ga Umma kasih?” atau “Kamu marah karena diledek sama Kakak?”

Biasanya dia akan meledak, bicara sekaligus menangis. Ulangi saja perkataannya dalam bentuk pertanyaan, kemudian peluk.

Anak yang memiliki secure attachment atau hubungan emosi yang aman dan hangat dengan orang-tuanya akan lebih mudah mereda emosinya.

Setelah tenang baru kemudian diberikan pemahaman tentang apa yang seharusnya ia lakukan sesuai dengan syari’at dan aturan yang berlaku.

Kemampuan meregulasi emosi inilah yang harus dilatih kepada anak-anak hingga tumbuh menjadi manusia dewasa yang tenang dan terkendali.

 

Mengkoreksi dengan Hukuman

Bagaimana jika anak melakukan kesalahan yang cukup berat dan dinilai membutuhkan hukuman agar jera? Bagaimanakah bentuk koneksinya?

Ada satu kaidah yang berbunyi, β€œqubhunal ‘iqab bila bayan”, hukuman menjadi buruk bila tanpa disertai penjelasan.

Orang tua kerap kali impulsif dan reaktif ketika memberi hukuman kepada anak. Hukuman bukan sesuatu yang anak pahami sebagai sebuah konsekuensi melainkan luapan amarah orang tua semata. Dan seringkali hukuman jenis inilah yang meninggalkan luka dalam diri anak dan menghilangkan rasa hormat pada orang tua bahkan justru ketidakdisiplinan dalam diri anak.

Jadi, yang menjadi poin dari sebuah hukuman adalah bahwa anak harus memahami bahwa hukuman yang ia terima merupakan konsekuensi dari kesalahan yang ia lakukan dengan sengaja. Sehingga yang harus diterapkan adalah aturan yang tegas (firm) dan konsisten. Aturan tersebut juga memuat hukuman apa yang akan didapatkan jika anak melakukan pelanggaran. Dan ini sedapat mungkin dipahami oleh anak.

Selain itu, anak pun sebisa mungkin memahami mengapa orang tua menerapkan aturan tersebut. Apa manfaat jika aturan itu berjalan dengan tertib di rumah.

Pemahaman ini dapat memberikan motivasi intrinsik pada diri anak untuk menaati peraturan tersebut.

Dan bagaimanakah kita dapat melihat bahwa aturan yang kita tegakkan adalah aturan yang tegas bukan yang impulsif?

Yang pertama, pastikan bahwa pilihan kata (diksi) kita ketika menegakkan aturan tersebut tidak menyakiti hati anak, misalnya bersifat labelling atau pelabelan buruk pada diri anak. Contohnya ketika anak makan berantakan kita bilang, “Kamu ini kalau makan selaluuu aja berantakan. Cepat habiskan dan bersihkan yang tercecer!” Penggunaan kata “selaluu” ini dapat menyakiti hati anak dan mencederai harga dirinya. Bandingkan dengan bilang, “Makannya yang rapi ya, jangan tumpah-tumpah. Nanti yang tercecer tolong dibersihkan.”

Yang kedua, sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa aturan tersebut memiliki alasan yang logisΒ  dan anak mampu memahaminya. Apa tujuan dari penegakkan aturan tersebut dan apa akibatnya jika aturan tersebut dilanggar dan tidak berjalan di rumah.

Peraturan yang masuk akal yang ditegakkan dengan tegas dan konsisten tanpa melukai hati anak inilah yang dapat membangun jiwa anak.Β  Wallahua’lam. [Eva]

*) Artikel ini sudah diterbitkan di Majalah Tabligh edisi November 2025

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *