Spread the love

Much Ridho (Founder Komunitas HSKM)

                                                                                                                                                                                     Minat dan Bakat itu mungkin bukan istilah baru. Dalam kajian kepribadian (psikologi modern/Barat), awalnya yang dikembangkan adalah test psikologi dan layanan konsultasi khusus. Lalu perusahaan bisnis menggunakannya untuk perencanaan staffing. Setelah itu dunia pendidikan pun menggunakannya dalam bentuk test potensi akademik.

Usaha mengenali diri yang mereka sebut sebagai “menemukan bakat” sejatinya adalah hal yang alamiah terjadi. Tapi bagi dunia bisnis, persoalan ini tidak boleh dibiarkan alamiah; tidak boleh menunggu. Setiap SDM (manajer dan karyawan) harus sudah bisa dipetakan dan harus jelas potensi dan kepribadiannya. Dengan menggunakan paradigma positivistik, jiwa manusia dikuantifikasi dan diklasifikasi menjadi beberapa model.

Sebuat saja 4 watak utama. Lalu ada 16 personality. Kemudian ada 7 bakat unggul, dan dikembangkan menjadi 14 Strength Typology. Boleh jadi, kalau riset ini terus berkembang, nantinya akan ditemukan atau dirumuskan banyak teori kepribadian. Apalagi kalau kita percaya bahwa “everybody is uniqe”. Bagaimana kita memandang temuan saintifik ini?                                                                                                                                                                                                                               

Berikut ini ada beberapa rambu dan panduan yang bisa kita gunakan:

1. Manusia senantiasa mendapatkan ujian. (QS 17: 83)

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ ۖ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا

Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. [17:83]

2. Setiap manusia itu berbeda syaakilahnya. (QS. 17: 84)

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا

Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. [17:84]

3. Ruh manusia tidak diketahui kecuali sedikit (QS 17:85)

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

 Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. [17:85]

4. Pengetahuan manusia terhadap dirinya sangat terbatas. (QS. 20: 7)

فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى

“maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.” [Thaha : 7]

5. Kepribadian manusia tergantung makrifatnya kepada Allah (QS. 59: 19)

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

 Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. [QS 59:19]

Dengan merenungi beberapa rambu ini, insyaAllah kita tidak akan tersesat dan akan menggapai kebahagiaan hidup.

Menemukan Bakat atau Belajar Mengalir?

Seseorang yang belajar mengalir secara alamiah akan semakin mengenali dirinya. Apalagi jika yang dipelajari pertama adalah soal ma’rifatullah. Pepatah yang mengatakan MAN ARAFA RABBAHU, FAQAD ARAFA NAFSAHU, menjadi tepat dan sesuai dengan makna yang ditunjukan oleh QS 59:19.

*) Bukan sebaliknya. Sementara yang lebih dikenal adalah ungkapan MAN ARAFA NAFSAHU FAQAD ARAFA RABBAHU.

Kondisi pembelajaran dan Lingkungan belajar yang tidak alamiah, membuat seseorang cenderung keluar dari fitrah. Sebabnya adalah pemaksaan pelajaran/ ilmu tertentu; inspirasi keduniaan yang materialistik; idola-idola dan hero artifisial yang dimunculkan.

Setelah mengetahui ini, tentu “penemuan bakat” yang merupakan usaha mengenali diri, tidak bertentangan dengan proses belajar yang mengalir; melainkan sebagai akibat yang otomatis akan didapatkan. Wallahua’lam.

 ~ SEKIAN ~

Tanya Jawab :

PERTANYAAN 1 :

Bagaimanakah kita lebih mengenali potensi/fitrah kita sendiri/anak? Adakah tips-tipsnya?

Jawaban : Upaya untuk mengenali diri salah satu yang paling utama adalah dengan melakukan proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs); dzikrullah dan meminta ma’unah (pertolongan) kepada Allah. Baca dan tadabburi rambu-rambu yang sudah disampaikan. Seiring perjalan waktu dan taufik dari Allah, insyaAllah kita akan mengenali siapa diri kita sebenarnya dan potensi apa saja yang diamanahkan kepada kita. Perlakukan semua amanah tersebut sebagaimana orang yang bersyukur dengan suatu pemberian.

Adapun untuk mengenali diri orang lain (anak, bawahan, dll), caranya adalah dengan bergaul akrab dan bertanya (wawancara mendalam). Proses bertanya ini yang bisa diwakili dengan test/kuisioner.✅

PERTANYAAN 2 :

Mengenai tes IQ dan tes kepribadian, apakah urgen dan sejauh apakah bisa kita ambil manfaatnya ? (memberikan tes IQ (psikotes) dan tes kepribadian ke anak?

Jawaban : Urgen atau tidaknya tergantung situasi dan kondisi. Apakah kita tidak bisa mengetahui ukuran kecerdasan diri sendiri? Apakah memang kita perlu tahu?

Adapun perusahaan atau lembaga pendidikan memerlukan data IQ dan kepribadian agar bisa menempatkan seseorang pada tempat yang tepat secara singkat. Untuk anak sendiri, kita bisa mengetahui mana anak yang cerdas dan mana anak yang lambat; jika kita mempergauli mereka dengan baik. Bahkan kita juga bisa mengetahui watak dan kecerdasan pasangan kita (suami/istri) setelah bergaul sekian lama.

Jadi tergantung kebutuhan. Boleh jadi untuk memilih calon pasangan/menantu yang tidak dikenal sebelumnya, kita bisa meminta data test formal semacam ini. Data-data ini tentu saja bermanfaat bagi kita yang ingin mengetahui orang lain. Jadi data hasil test formal ini memang lebih kepada orang lain.

Sementara, pada manusia normal secara alamiah ia bisa mengetahui ukuran kecerdasan dan kepribadian dirinya sendiri. Adapun untuk orang-orang tertentu yang kesulitan untuk memahami diri sendiri, bisa menggunakan alat bantu semacam test kepribadian atau test bakat. Wallahua’allam✅ 

PERTANYAAN 3 :

Bagaimana dengan pola, 0-14 tahun belajar mengalir, kemudian 14+ menemukan (melalui pemetaan) bakat. Jadi keduanya dilakukan penerapan hanya berjenjang di waktu. Mohon pencerahannya!

Jawaban : Jika 0-14 tahun tidak digegas, tidak dipaksa sembarangan atau diporsir, insyaAllah fitrahnya tidak terganggu. Kalau fitrahnya tidak rusak, normalnya ia akan bisa mengenali (sebagian) bakatnya secara otomatis. Adapun alat bantu test formal bisa menjadi tambahan informasi saja. Jika alat (tools) test bagus, tentu akan sesuai dengan pengetahuan diri (tacit knowledge) yang sudah diketahui. Waallahua’lam

PERTANYAAN 4 :

Apakah yang dimaksud dengan kondisi pembelajaran dan lingkungan belajar yang tidak alamiah? Boleh minta contoh gambarannya?

Kemudian bagaimana mengukur/mengetahui bahwa telah terjadi pemaksaan pelajaran/ilmu tertentu?

Jawaban : Contohnya adalah sekolah formal yang ada sekarang. 🙏🏻 Juga kursus-kursus yang dipaksakan oleh orang tua; dan (mohon maaf) termasuk juga program tahfidz dan calistung yang dipaksakan.

Ukuran masing-masing pelajaran tentu berbeda. Sebagai contoh CALISTUNG secara formal tidak boleh dipaksakan pada anak usia dibawah 7 tahun. Kecuali sekedar pengenalan dan dengan teknik bermain (atau bernyanyi); artinya bukan belajar secara formal dan tertib materi. Wallahua’lam ✅

PERTANYAAN 5 :

1. Jika bakat dan minat itu sejatinya mengalir. Berarti masing-masing individu itu akan berbeda satu sama lain sesuai kedekatan dengan Rabbul Izzati. Bagaimana kita tahu bahwa itu bakat minat kita atau anak-anak, sementara lingkungan atau keluarga bisa jadi menjadi penghalang? Bagaimana kita akan mengenali bakat minat itu jika lingkungan tidak mendukung.

2. Bisakah bakat minat yang sudah keluar fitrah itu kembali kepada jalurnya kembali? Bagaimana kita mengetahui bakat kita keluar jalur, dan bagaimana kita mengetahui bakat kita kembali kepada fitrah nya?

Jawaban :  Bakat itu asalnya “tacit knowledge” alias pengetahun tersembunyi a.k.a rahasia. Tadi sudah beberapa kali dijelaskan bagaimana orang lain mengetahuinya. Lihat, perhatikan, dan tanyakan. Bakat/ Potensi Diri itu tidak hanya satu. Berdasarkan penelitian pun bisa mencapai 7 sampai 14 bahkan mungkin bisa lebih lagi. Jadi dalam menghadapi ujian hidup, ya insyaAllah ujiannya pasti bisa dilewati sesuai potensi tadi.

Potensi/Bakat adalah amanah sekaligus ujian. Dalam mengembannya ya tentu saja dengan jihad. Baik jihad melawan musuh eksternal, maupun musuh internal (diri sendiri). Musuh internal ini biasa disebut hawa nafsu. Apa itu hawa nafsu? Kecenderungan jiwa. Apa itu? Ya salahsatu bagian dari fitrah juga. Makanya jiwa kita ini butuh bimbingan dan panduan dari wahyu ilahi.

PERTANYAAN 6 :

Bagaimana dengan mempelajari sesuatu yang dia rasa bermakna untuk bekal hidupnya, misal memperdalam agama. Apakah hanya orang berbakat saja yang dapat menguasai ilmu agama? Bagaimana pendapat Bapak? Terimakasih.                                                                                           

Jawaban : Mempelajari agama itu hukumnya fardhu ‘ain. Soal dia tidak berbakat ya tetap saja kewajiban akan dimintai pertanggungjawaban. Kewajiban mempelajari ilmu yang fardhu ‘ain adalah bentuk standar kompetensi dasar. []

*) Disampaikan pada Kulwapp HSKM Bekasi, Rabu/ 1 Agustus 2018 Jam : 19.30 wib


Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *