Spread the love

Untuk memahami homeschooling dengan baik, harus dimulai dari memahami peran orang tua dan guru. Sebagai individu seseorang dapat saja menjadi menjadi keduanya secara sekaligus. Akan tetapi, meskipun demikian perlu dijelaskan kedudukan masing-masing peran dan fungsi keduanya (baca: orang tua dan guru).

Para orang tua harus memahami tugas dan fungsi masing-masing. Peran sebagai individu, peran sebagai orang tua, sebagai ayah, sebagai ibu, dan sebagai anggota masyarakat. Pengasuhan – sebagaimana telah dijelaskan – adalah sebuah aktivitas dan interaksi orang tua terhadap anak dalam rangka membersamai sang anak hingga dewasa. Syarat utama dari seorang pengasuh adalah kedewasaan. Sedangkan pendidikan –sebagaimana telah dijelaskan – adalah sebuah aktivitas pengajaran ilmu terhadap orang yang bodoh dalam rangka memberitahu sang murid apa-apa yang belum diketahuinya hingga berilmu.

Memahami pentingnya perbedaan konsep pengasuhan dan pendidikan adalah untuk memahami perbedaan tugas orang tua sebagai pengasuh anak dan guru sebagai ahli ilmu yang mengajar. Keduanya adalah fungsi yang berbeda meskipun bisa dilaksanakan oleh oknum yang sama. Orang tua yang berilmu dan menjadi guru, tentu lebih baik dari pada sekedar orang tua. Namun sebelum itu ada orang tua yang baik dan ada guru yang baik. Kedua hal ini adalah hal yang berbeda dan harus dipahami dengan baik.

Menjadi orang tua/pengasuh yang baik, tidak mesti menjadi seorang ahli ilmu. Maka sebutan orang tua yang baik bisa saja disematkan pada orang tua yang tidak berpendidikan (berilmu). Masyarakat yang tidak berpendidikan atau keterbatasan akses terhadap ilmu tetap saja bisa menjadi baik dalam loyalitas kearifannya. Dalam konteks pengasuhan, para orang tua di daerah terpencil, pedalaman, atau bahkan para kakek-buyut terdahulu di desa adalah orang-orang yang hidup dengan kearifan dan pengalaman tradisional. Mereka bisa menjadi orang tua yang baik, bahkan lebih baik dari generasi sekarang yang menyerahkan pengasuhan kepada pihak lain.

Sampai di sini dapat dibuat kesimpulan bahwa orang tua tidak harus menjadi guru ketika dia tidak berilmu. Pernyataan yang menyatakan bahwa orang tua harus mengajari anaknya adalah pernyataan kiasan yang perlu dimaknai (takwil) dengan bimbingan kedewasaan (konseling). Orang dewasa yang baik, dapat dipastikan mampu menjadi pengasuhan yang baik, jika ia mengerti dan memahami dunia pengasuhan dan asuhannya (anak). Sementara itu, seorang guru harus berkonsentrasi pada ilmu yang dimilikinya. Ia bisa menjadi guru yang baik jika betul-betul memahami dunia keilmuannya dan mengetahui kondisi pengetahuan muridnya.

Singkatnya, orang tua bertanggung jawab terhadap anaknya dalam persoalan sikap dan perilaku (kedewasaan). Sedangkan guru bertanggung jawab terhadap muridnya dalam persoalan ilmu yang diajarkannya. []

Oleh : Muchamad Ridho Hidayat