Spread the love

Much Ridho (Founder Komunitas HSKM)

Homeschool atau biasa disingkat HS adalah fenomena yang sebetulnya sudah ada sejak dahulu. Akan tetapi secara penamaan, istilah ini muncul di Barat setelah ada orang yang merasa tidak cocok dengan sistem sekolah umum (public school) yang ada. Orang-orang ini tidak mau masuk atau keluar dari sekolah umum. Mereka membuat sub-kultur yang akhirnya dinamakan dengan HS. Alasan paling umum dan paling menjadi konsentrasi dari para pelaku HS adalah anggapan bahwa setiap anak adalah unik dan perlu mendapatkan perlakuan spesial (diperlakukan tidak seragam).

Praktek HS yang ada beraneka ragam dan coraknya berbeda-beda. Varian-varian dan gaya (style) belajar pelaku HS berbeda sesuai dengan keunikan masing-masing anak atau keluarga. Akan tetapi yang jelas adalah perbedaan prilaku mereka dengan praktek pada sekolah umum. Diantaranya: tidak mengenakan seragam; tidak memiliki jadwal kelas yang padat; tidak selalu didampingi oleh seorang guru atau tutor; tidak memiliki kurikulum baku (tidak mengikuti kurikulum sekolah umum); dll.

Praktek seperti diatas bolehjadi sesuai atau bahkan bisa bertentangan dengan konsep pendidikan Islam. Praktek pendidikan dalam Islam sebagaimana sudah dikenal terlebih dahulu, memiliki ciri khas dan panduan yang jelas. Hal ini disebabkan Islam adalah ajaran yang memuliakan ilmu dan ahli ilmu, menjunjung tinggi aktivitas belajar serta hidup bersama tradisi keilmuan.

Pada kesempatan kali ini, akan dibahas beberapa hal terkait dengan praktek pendidikan Islam dalam kaitannya dengan HS.

Pertama, posisi orangtua. Pendidikan Islam memandang posisi orangtua sebagai posisi sentral dan sangat penting dalam pendidikan anak. Ayah dan ibu masing-masing memiliki peran langsung dalam mendidik anak mereka. Bahkan sebagian hal tidak bisa didelegasikan kepada oranglain. Orangtua adalah guru sekaligus panutan (pemimpin/teladan) bagi anak.

Kedua, posisi rumah. Pendidikan Islam memandang rumah sebagai wahana dan tempat pembelajaran. Tradisi Islam harus hidup didalamnya.  Ilmu harus bersinar sudut-sudutnya. Majelis ilmu harus digelar secara rutin disana.

Ketiga, posisi guru. Pendidikan Islam memandang guru sebagai orang yang mulia. Posisi sangat terhormat. Guru dalam praktek pendidikan Islam bisa dilakoni oleh orangtua atau oranglain yang dipercaya. Ketika orangtua telah selesai mengajari anaknya, mereka harus mengirim anak mereka kepada para ahli ilmu untuk melanjutkan proses pembelajaran. Anak harus didorong keluar rumah untuk menuntut ilmu. Sebagai bentuk memuliakan guru, Islam menganjurkan para pelajar untuk datang kerumah atau majelis yang dipimpin oleh para ahli ilmu. “Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi.” Maka, upaya mengejar dan menuju tempat belajar adalah bagian integral dari proses belajar.

Keempat, metode belajar. Pendidikan Islam sangat kaya dengan metode belajar. Metode belajar dalam Islam akan menunjukan tentang bagaimana berbagai hakikat pendidikan. Mulazamah misalnya. Metode ini dilakukan dengan membersamai (melazimi) guru. Seorang murid berusaha mengikuti setiap majelis gurunya. Ia juga selalu dekat dengan keseharian gurunya dan aktif bertanya serta berdialog dengan gurunya. Metode ini dapat menghasilkan proses transfer ilmu dan akhlak secara paripurna. Selain mempelajar aspek intelektual, murid juga mendapatkan aspek keteladanan. Seolah-olah guru adalah orangtua yang hidup bersamanya. Lain lagi dengan Mushahabah. Metode ini menjadi guru sebagai sahabat. Sehingga seorang murid betul-betul tahu dan mengenal seluk beluk pemikiran dan tindakan gurunya. Tentu saja yang seperti ini tidak akan terjadi di sekolah umum.

Cukup sekian dulu untuk pembahasan kali ini. Semoga bermanfaat. Wassalamua’laikum

@Much Ridho – Fouder HSKM

*) Kandidat Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor; Penerima beasiswa kaderisasi seribu ulama BAZNAS – DDII

*)

Ibn Qutaiba dalam ‘Uyun al-Akbar mengatakan: “Yang pertama harus dilakukan dalam belajar adalah diam; kedua mendengarkan; ketiga menghafal; keempat memahami; dan kelima menyebarkan (mengamalkan).

Ibn Mubarak mengatakan yang pertama dalam belajar adalah niat, kemudian mendengarkan, memahami, menghafal, menerapkan, dan akhirnya menyebarkan. [M. Atiya Ibrashi: hlm. 87]


Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *