Pudarnya Esensi Silaturahim, Bisakah Kita Mengembalikannya Lagi?

0 0
Read Time:10 Minute, 9 Second

Oleh, Eva Rahayu
(Redaktur KeluargaMuslim.Org)

Di tengah suasana Idul Fitri dan mudik lebaran ini agaknya menjadi momen yang pas bagi kita untuk menyegarkan kembali makna silaturahim. Sudah maklum diketahui, di tengah masyarakat terdapat interpretasi yang keliru tentang definisi silaturahim ini. Ada yang meluaskan makna silaturahim dengan makna silah ukhuwah atau persaudaraan sesama muslim. Ada pula yang menyempitkannya dengan makna sekedar bertemu, bertamu atau berkunjung.

Dan dalam sudut yang lebih ekstrim, terdapat arus tren yang mengikis konsep silaturahim ini dari ranah kehidupan sosial kita. Kehidupan modern yang cenderung individualis dan hedonis melahirkan beberapa konsep bertendensi negatif yang mana hal tersebut menjadi semacam kontra kultur terhadap esensi silaturahim dan tradisi-tradisi mulia yang lahir darinya. Salah satu contohnya konsep sandwich generation yang diartikan sebagai generasi terjepit yang harus menanggung hidupnya sendiri, keluarga intinya, juga orang tuanya bahkan kakak adiknya, menjadi konsep yang berhadap-hadapan dengan konsep birrul walidayn (berbuat baik dan memberi nafkah kepada kedua orang tua) dan menafkahi kerabat dekat. Bahkan fenomena childfree, keengganan untuk menikah, dan celibacy syndrome yang menyebabkan resesi seksual di negara-negara maju pun dapat menjadi fenomena yang menantang konsep silaturahim yang dimiliki oleh umat Islam.

Jadi, bukan hal yang aneh jika semakin hari makna silaturahim ini semakin memudar bahkan hilang terutama pada laku sosial generasi Z yang kini mulai mengisi ranah produktif juga generasi-generasi di bawahnya, apalagi dengan akses informasi yang tidak terbatas hari ini. Apa yang menjadi tren di belahan dunia lain terutama yang menguasai media dan informasi mudah sekali menjadi tren di belahan dunia lainnya yang relatif mengekor. Maka, menjadi sangat penting dan relevan bagi kita untuk bersegera bersungguh-sungguh menghidupkan kembali silaturahim baik dalam tataran konsep maupun pengamalan.

Definisi dan Esensi Silaturahim

Shilah dalam bahasa Arab berasal dari kata washala-yashilu-washlan, wushulan, shilah, yang secara harfiah berarti sampai ke sebuah tempat atau tujuan, menyambung, menggabungkan, dan berkelanjutan. Shilah juga bermakna hubungan yang kuat. Jadi silaturahim bisa dimaknai sebagai hubungan yang lahir karena sebab rahim/nasab/kekerabatan. Dalam Islam, menjaga dan menyambung silaturahim merupakan salah satu esensi agama. Dan menikah juga berkeluarga merupakan satu-satunya konsep sosial yang dipakai untuk berketurunan dan melestarikan klan. Keluarga, suku, adalah akar identitas seseorang selain juga merupakan konsep politik dan pemerintahan yang paling purba dan diakui oleh Islam.

Perintah Allah mengenai memelihara silaturahim dan larangan yang keras untuk memutusnya terdapat dalam Al Qur’an juga hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Dalam QS. An Nisa ayat 1 Allah berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Artinya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” [QS. An Nisa : 1]

Dan dalam hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, Abdurrahman ibnu ‘Auf berkata bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنا الرَّحْمنُ، وَأَنا خَلَقْتُ الرَّحِمَ، وَاشْتَقَقْتُ لَهَا مِنِ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا بتَتُّهُ

“Allah ’azza wa jalla berfirman: Aku adalah Ar Rahman. Aku menciptakan rahim dan Aku mengambilnya dari nama-Ku. Siapa yang menyambungnya, niscaya Aku akan menjaga haknya. Dan siapa yang memutusnya, niscaya Aku akan memutus dirinya.” [HR. Ahmad 1/194, shahih lighoirihi].

Lantas, bagaimanakah bentuk menjaga silaturahim ini? Penjagaan silaturahim bermula dari menjaga hal-hal yang paling utama, yakni membersihkan hati dan meluruskan niat dalam berinteraksi dengan mereka, menjaga kehormatan mereka (tidak meng-ghibah, memfitnah, adu domba), bersikap baik -bahkan kepada orang tua ada larangan sekedar berkata “ah”-, memberikan nafkah, tolong-menolong, saling memaafkan, juga menunaikan hak-hak mereka sebagai sesama muslim. Adapun bertemu dan saling berkunjung hanyalah salah satu bagian dari menjaga silaturahim.

Dalam QS. Al Isra ayat 23 dan QS Al Baqarah ayat 215 Allah berfirman,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” [QS. Al Isra : 23]

يَسْـَٔلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ ۖ قُلْ مَآ أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ

Artinya: “Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” [QS. Al Baqarah : 215]

Dan dalam haddits disebutkan, dari Abu Ayyub Al Anshori, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga, lantas Rasul menjawab,

تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ

“Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahim (dengan orang tua dan kerabat).” [HR. Bukhari no. 5983]

Selain banyaknya perintah tentang menjaga silaturahim,  terdapat amaran yang keras bagi siapa yang memutus silaturahim. Dalam beberapa hadits Nabi shalallahu’alaihi wasallam, dari Abu Bakroh, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا – مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ – مِثْلُ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya [di dunia ini] -berikut dosa yang disimpan untuknya [di akhirat]- daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutus silaturahim (dengan orang tua dan kerabat)” [HR. Abu Daud no. 4902, Tirmidzi no. 2511, dan Ibnu Majah no. 4211, shahih]

Abdullah bin ’Amr berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِى إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

”Seorang yang menyambung silahturahim bukanlah seorang yang membalas kebaikan seorang dengan kebaikan semisal. Akan tetapi seorang yang menyambung silahturahmi adalah orang yang berusaha kembali menyambung silaturahmi setelah sebelumnya diputuskan oleh pihak lain.” [HR. Bukhari no. 5991]

Abu Hurairah berkata, “Seorang pria mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya punya keluarga yang jika saya berusaha menyambung silaturrahim dengan mereka, mereka berusaha memutuskannya, dan jika saya berbuat baik pada mereka, mereka balik berbuat jelek kepadaku, dan mereka bersikap acuh tak acuh padahal saya bermurah hati pada mereka”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kalau memang halnya seperti yang engkau katakan, (maka) seolah- olah engkau memberi mereka makan dengan bara api dan pertolongan Allah akan senantiasa mengiringimu selama keadaanmu seperti itu.” [HR. Muslim no. 2558]

Dan salah satu hal yang familiar dan sering diangkat tentang silaturahi m ini adalah tentang balasan akan dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umurnya dengan menyambung silaturahim.

Dari Abu Hurairah, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” [HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557]

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

مَنِ اتَّقَى رَبَّهُ، وَوَصَلَ رَحِمَهُ، نُسّىءَ فِي أَجَلِه وَثَرَى مَالَهُ، وَأَحَبَّهُ أَهْلُهُ

“Siapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” [Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 58, hasan]

Dampak Putus dan Pudarnya Silaturahim

Secara mikro, salah satu dampak putus dan pudarnya silaturahim adalah adanya kemiskinan yang ekstrim. Seringkali ditemukan adanya orang-orang yang sampai tidak bisa makan berhari-hari bahkan ditemukan dalam kondisi meninggal karena kelaparan. Demikian pula adanya gelandangan dan anak-anak jalanan yang menjadi PR sosial yang cukup meresahkan. Banyak kasus-kasus ini yang bermula dari sikap memutus diri dari keluarga juga abainya anggota keluarga lainnya alias praktik-praktik memutus silaturahim. Pergi dari rumah dalam kondisi marah kepada orang tua atau saudara, merantau tanpa jejak, kemudian menikah dan punya anak pun tanpa keluarga mengetahui. Alhasil, banyak anak-anak lahir dengan kehilangan akar identitasnya. Anggota keluarga yang satu tidak mengenal yang lainnya, hak-hak dan kewajiban silaturahim pun menjadi pudar. Jika terjadi kerentanan hubungan dalam pernikahannya, terjadi perceraian, tidak terwujudnya pengasuhan yang baik, anak-anak pun menjadi korban. Mereka bisa mengulang siklus yang sama. Anak-anak hidup di jalan, menggelandang karena tidak memiliki lagi naungan (keluarga besar lainnya).

Hubungan keluarga yang erat, tertunaikannya hak-hak pengasuhan (perwalian) yang baik, dan jarak yang masih terjangkau -hari ini mungkin jarak bukan lagi sebuah masalah yang sulit terseselaikan- memungkinkan anggota keluarga yang satu dengan yang lainnya bisa saling tolong-menolong. Dan hal ini menciptakan kekuatan komunitas, baik  secara ekonomi maupun politik. Bisnis keluarga yang langgeng bisa terwarisi di sini. Dalam arti seharusnya akan sulit mendapati kasus kelaparan dan anak-anak yang terlantar jika silaturahim ini terjaga.

Syari’at datang memang untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan hidup dan memilih untuk berpaling dan menyelisihinya tentu saja mendatangkan kesukaran hidup.  Dalam QS. Thaha ayat 124 Allah berfirman,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ

Artinya: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. [QS. Thaha : 124]

Jadi, ditengah hilang dan pudarnya esensi silaturahim hari ini, bisakah kita mengembalikannya lagi? Kita harus optimis bisa, insyaAllah. []

 

*) Tulisan ini telah diterbitkan di Majalah Tabligh edisi April 2025 / Syawal 1446 H.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *