Agar Anak Tak Mem-bully dan Tak Di-bully

0 0
Read Time:7 Minute, 29 Second

Oleh: Eva Rahayu
(Redaktur KeluargaMuslim.Org)

 

Berita tentang pem-bully-an (perundungan, kekerasan) tak sudah-sudah berseliweran di laman media sosial kita hari ini. Dengan segala macam jenis perundungan, mulai dari verbal bully (hinaan, perkataan kasar), bully fisik yang bahkan sampai menyebabkan korban kehilangan nyawa.

Dan perundungan ini tak hanya terjadi dalam pergaulan anak-anak tetapi juga di segala usia. Tindakan-tindakan merundung mental dan fisik kerap dilakukan oleh orang dewasa, terutama oleh mereka yang memiliki posisi atas dalam relasi kuasa. Orang tua kepada anak, suami kepada istri, atasan kepada bawahan, senior kepada junior.

Belum lama, ramai diperbincangkan bullying yang terjadi di salah satu sekolah berasrama di Malaysia. Seorang siswi menengah dikabarkan tewas, disinyalir karena menerima perundungan fisik yang berat. Kemudian banyak berita tentang perundungan di pondok pesantren yang juga sampai menghilangkan nyawa korbannya. Belum lagi berita-berita tentang KDRT yang sangat memilukan dan menyesakkan hati.

Fenomena ini agaknya perlu menjadi perhatian kita bersama selaku orang tua. Bagaimana agar anak-anak kita tidak ikut menjadi pelaku bullying ataupun menjadi korban bully.

 

Empati yang Hilang dan Rendahnya Citra Diri (Self Esteem)

Jika kita mau menelisik mengapa seorang  mudah menjadi pelaku bullying, biasanya karena dibesarkan dalam asuhan yang minim empati dan banyak trauma.

Bisa minim empati dalam artian ia menjadi korban bully dalam kesehariannya sehingga menganggap bullying sebagai bentuk ekspresi yang wajar. Bisa pula minim empati karena ia dibesarkan dengan penuh kemanjaan, tidak punya batasan (aturan yang konsisten), egonya terus diberi makan tanpa dilatih bertenggang rasa dengan keadaan dan kebutuhan orang disekitarnya, sehingga membuatnya menjadi anti-sosial, hanya menuruti ego dan kebutuhan dirinya saja (egois). Empatinya terhadap orang lain pun tidak tumbuh berkembang.

Dan jika ditinjau lebih dalam lagi, kesalahan pola asuh ini juga bisa menjadi penyebab terjadinya beragam gangguan atau penyimpangan kepribadian di kemudian hari, seperti NPD (Narcissistic Personality Disorder), BPD (Borderline Personality Disorder), dan Histrionic Personality Disorder (HPD).

Sementara, mengapa seorang anak atau seseorang mudah menjadi korban bully, biasanya karena memiliki citra diri (self esteem) yang rendah. Para korban bully biasanya dianggap sebagai pihak yang lemah, tidak punya kuasa untuk melawan. Dan jika setelah di-bully terbukti memang tidak mampu membela diri, maka ia akan terus menjadi bulan-bulanan.

Anak-anak atau seseorang dengan citra diri (self esteem) yang rendah memandang dirinya dengan negatif. Merasa tidak berharga dan tidak apa-apa disakiti. Hal ini juga sangat dipengaruhi oleh pola asuh.

Kurangnya basic trust (keyakinan mendasar dan awal bahwa ia senantiasa diterima, disayangi, dan dipenuhi kebutuhannya bagaimanapun keadaan mereka) terhadap orang tua atau pengasuhnya menjadi penyebab utama. Sehingga ia tumbuh dengan penghargaan terhadap diri sendiri yang rendah dan mentalnya pun menjadi lemah. Ia bias dalam melihat potensi dan kelebihan dirinya, selalu merasa buruk dan tidak berharga. Tidak mampu melihat keadaan dirinya apa adanya.

Biasanya antara pem-bully dan korban bully -yang tidak mampu melawan-, memiliki problem psikologis dengan akar yang mirip, yakni gangguan psikologis yang menyebabkan bias pikir. Tidak mampu melihat dan menghukumi realitas apa adanya, cenderung prejudis. Para pelaku bullying cenderung over-estimate (memandang lebih tinggi) terhadap dirinya dan merendahkan orang lain, sementara sebaliknya para korban bully cenderung under-estimate (memandang lebih rendah) terhadap dirinya.

Tetapi banyak pula pelaku bullying yang punya self esteem (citra diri) yang sangat rendah. Ia merasa dirinya tak berharga karena kekerasan yang ia terima terus-menerus di keluarga sementara ia tak mampu melawan. Dendam dan kemarahannya pada akhirnya membuat bias dalam pikirannya, ia melihat dunia dengan pandangan kebencian dan kecurigaan. Ia meyakini seluruh dunia akan jahat terhadap dirinya sehingga ia yang harus lebih dulu bersikap agresif sebagai bentuk pertahanan diri.

 

Menumbuhkan Empati dan Citra Diri yang Baik

Satu-satunya cara agar anak tumbuh dengan memiliki empati dan citra diri yang baik adalah dengan menguatkan basic trust mereka terhadap orang tua atau pengasuhnya.

Basic trust yang baik terhadap orang tua dan lingkungan awalnya tumbuh, membuat anak merasa aman secara fisik (safe) dan nyaman secara mental (secure). Tumbuh kembangnya akan baik karena kebutuhan fisiknya terpenuhi, mentalnya juga berkembang dengan baik karena mendapatkan penerimaan yang tulus dan kasih sayang yang hangat.

Anak-anak yang tumbuh dalam kekerasan dan trauma akan mengembangkan mode bertahan (survive), dan ini akan sangat mengganggu tumbuh kembangnya. Pertumbuhan fisiknya terhambat, mentalnya juga terganggu karena fokus dirinya untuk bertahan bukan bertumbuh.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dengan sangat presisi dan detil mengajarkan bagaimana agar basic trust anak terhadap orang tuanya tumbuh kuat. Basic trust yang kuat akan menjadi modal anak-anak untuk berbakti kepada orang tuanya, selain itu pula menjadi modal lahir batin yang tak ternilai pentingnya untuk kehidupan mereka selanjutnya. Kestabilan emosi (psikologis), kekuatan fisik, kejernihan pikir bermula dari sini.

Sepenting itu memang basic trust ini. Ganjaran-ganjaran yang luar biasa pun Allah janjikan kepada para orang tua yang memberikan perhatian, kebahagiaan, dan memenuhi kebutuhan lahir dan batin anak-anaknya terutama pada saat anak-anaknya kecil.

Bahkan nafkah yang seorang laki-laki berikan kepada istri dan anak-anaknya lebih besar hitungannya daripada mengeluarkan harta fisabilillah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi, pen)” [HR. Muslim no. 995].

Nafkah yang baik, halal, mencukupi dan berkah, membuat anak-anak merasa aman dan nyaman di rumah sehingga mendukung tumbuh kembangnya baik secara fisik maupun mental.

Kemudian tentang pemenuhan kebutuhan psikologisnya. Banyak sekali hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang menyebutkan tentang hal ini. Di antaranya,

“Sesungguhnya Allah senantiasa merahmati orang tua yang membantu anaknya berbakti kepadanya.”

Orang-orang di sekeliling Beliau bertanya, “Bagaimana cara orang tua membantu anaknya berbakti, ya Rasulullah?”

Nabi SAW menjawab, ”Mereka menerima yang sedikit darinya, memaafkan yang menyulitkannya, tidak membebaninya, dan tidak memakinya.”

Di sini Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menasihati para orang tua dengan pola asuh yang begitu lembut dengan lebih detil.

Menerima yang sedikit dari anak membuat orang tua bersyukur dengan keadaan anak dan ini membuat perasaan anak menjadi nyaman. Perasaan nyaman dan penerimaan orang tua membuat anak lebih mudah untuk berbuat lebih baik lagi. Memaafkan anak apabila anak menyulitkannya membuat anak selalu merasa memiliki tempat pulang meski ia salah. Anak pun tidak ragu mengekspresikan segala perasaannya, sedihnya, marahnya, gelisahnya, karena ada orang tua yang selalu menerima, memaafkan dan membimbingnya. Kemudian tidak membebani anak, semua hal dilakukan atas kesadaran akan kebaikan dan konsekuensi. Tidak membebani mereka dengan ambisi orang tua atau obsesi orang tua yang belum terwujud oleh dirinya sendiri sehingga dititipkan ke anak. Dan terakhir tidak memakinya, citra diri anak terjaga di sini.

Pada hadits lainnya Rasulullah bersabda, “Cintailah anak-anakmu dan kasih sayangilah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka, tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui, kamulah yang memberi mereka rezeki.”

Di sini terasa sekali pesan tentang pentingnya basic trust, di mana kasih sayang Allah dirasakan anak melalui kasih sayang orang tua. Anak-anak belum mampu memahami konsep tuhan, sehingga tuhannya adalah orang tua. Orang tua adalah segalanya bagi anak-anak. Tempat berlindung, tempat mengadu, sumber kebahagiaan, dan sumber pemenuhan kebutuhan. Orang tua yang manipulatif, menjadikan anak sebagai sandaran emosinya (terbalik), dan tumpuan obsesinya kerapkali melahirkan anak-anak yang kesulitan untuk mengenali Allah, sulit merasakan kasih sayang Allah ketika mereka dewasa. Mereka kesulitan untuk mengenali dan menerima diri mereka sendiri karena tidak memiliki sandaran jiwa (hati orang tua) yang kokoh saat kecilnya. Jiwanya gamang dan rapuh. Sebanyak apapun pengetahuan tentang ajaran agama dan moral yang sampai kepadanya, akan sangat sulit ia dekatkan dengan kesadarannya dan aplikasikan dalam kesehariannya jika mentalitas dan jiwanya gersang dan kelaparan.

Pada hadits lain lagi Rasulullah mengabarkan betapa pentingnya menggembirakan hati anak-anak dan pentingnya bermain dan bergembira saat masih kecil,

“Siapa yang memiliki anak, hendaklah ia bermain bersamanya dan menjadi sepertinya. Siapa yang menggembirakan hati anaknya, maka ia bagaikan memerdekakan budak. Siapa yang bergurau untuk menyenangkan hati anaknya, maka ia bagaikan menangis karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Rasulullah SAW bersabda, “Keringat anak (karena bermain) di waktu kecilnya akan menambah kecerdasan di waktu besarnya.”

Begitu sempurnanya ajaran Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ini, begitu detil dan rinci, dan ternyata memang sepenting itu. Ketika ilmu psikologi kini menguak banyak sekali penyakit mental yang disebabkan oleh kurangnya kasih sayang orang tua terhadap anak saat masih kanak-kanak,  Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sudah jauh lebih dulu mengajarkan hal tersebut.

Butuh hati yang kuat dan mentalitas yang prima memang untuk mengasuh anak-anak sesuai dengan yang Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ajarkan. Hanya kedekatan orang tua kepada Allah-lah yang dapat terus menjaga kesadarannya untuk bisa tetap on-track  ketika mengasuh anak-anaknya.

Semoga Allah memudahkan para orang tua agar mudah tersenyum merekah ketika  bertemu anak-anaknya, mudah memeluk, bercanda, dan membimbing dengan lembut, tegas dan konsisten. Juga dimudahkan untuk memenuhi kebutuhan fisik anak-anak, gizi yang baik, pakaian yang layak dan tempat tinggal yang nyaman. Semoga dari ikhtiar ini kita bisa mengurangi lahirnya anak-anak yang berpotensi menjadi pem-bully maupun korban bully. Allahumma aamiin. [eva/mrh]

 

*) Artikel ini telah diterbitkan di Majalah Tabligh edisi Oktober 2025

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *