Eva Rahayu
(Co-Founder KeluargMuslim.Org)
Jauh sebelum ilmu psikologi dan parenting berkembang, Rasulullah Saw sebagai suri tauladan umat Islam sudah sangat-sangat memberikan amaran kepada para orang tua untuk memberikan perhatian besar kepada pengasuhan anak-anaknya.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw pernah menegur Ummu Fadhl ketika mengambil anaknya dengan kasar karena pipis dalam gendongan Rasulullah Saw. “Pakaian yang kotor ini dapat dibersihkan dengan air, tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan jiwa anak ini akibat renggutanmu yang kasar?”
Kunci utama pengasuhan adalah sifat rahim, kasih sayang tanpa syarat dan penerimaan yang tulus (genuine love and acceptance). Anak-anak yang sejak dalam kandungan diterima dengan tulus, diberi kasih sayang dan perhatian tanpa syarat melewati tumbuh kembang masa batita dengan sangat baik. Mereka menjadi bayi yang mudah dipahami dan dirawat (easy baby) dan tumbuh menjadi batita yang antusias, pemberani, dan pandai mengekspresikan dan mengkomunikasikan keadaan dirinya (asertif). Kuncinya memang di hati orang tua, semakin mudah orang tua menerima (meridhai) keadaan anak-anaknya semakin mudah mereka tumbuh dan berkembang dengan baik. Sifat pengasuhan memang inside out dari dalam ke luar, artinya orang tualah yang mau merendahkan hati untuk menerima, melihat, dan mencermati keadaan anak-anak mereka dan memberikan treat pengasuhan yang paling pas agar anak-anak bisa bertumbuh kembang dengan baik.
Pada hadits yang lain lagi suatu ketika Rasulullah Saw mengatakan kepada para sahabat, “Allah merahmati orang tua yang membantu anaknya berbakti kepadanya.”
Kemudian para sahabat bertanya, “Bagaimana caranya membantu untuk berbakti ya Rasul Allah?”
“Dia menerima yang sedikit darinya, memaafkan yang menyulitkannya, dan tidak membebaninya serta tidak pula memakinya.”
Hadits ini sungguh senada dengan hadits sebelumnya, lagi-lagi tentang kasih sayang tanpa syarat dan penerimaan yang tulus. Bahkan hal ini berlaku secara universal. Kita sering melihat banyak tokoh-tokoh non-muslim yang anak-anak mereka tumbuh dengan sangat baik karena dua hal ini mereka penuhi.
Saat orang tua menerima yang sedikit dari anak-anaknya, maka kelebihan dan kebaikan kecil pada diri mereka menjadi sangat istimewa di hati kita. Saat orang tua mengafirmasi kebaikan yang sederhana itu, maka kebaikan itu menjadi citra diri yang akan terus melekat dan akan berkembang. Ada sebuah cerita tentang seorang anak kecil yang mengikuti tradisi ayahnya untuk selalu habis saat makan. Saat anak tersebut selesai makan, ayahnya memujinya, “Neng hebat, makannya bersih, kaya Rasulullah.” Pujian ini seperti afirmasi bagi diri sang anak, bahwa dia adalah anak yang selalu menghabiskan makanannya, seperti Rasulullah Saw. Sampai besar citra ini melekat, ia tumbuh menjadi anak yang tidak senang membuang-buang makanan. Begitulah jiwa anak berkembang dari satu pujian jujur dan tulus yang satu menuju pujian yang jujur dan tulus yang lain. Pujian yang memang ada kebaikan yang menjadi objeknya bukan pujian melenakan dan berlebihan yang membuat jiwa angkuh.
Saat orang tua memaafkan apa yang menyulitkannya saat mereka kanak-anak, maka hal itu memberikan kenyamanan psikologis bagi anak-anak mereka. Mereka tidak terlalu khawatir untuk mencoba berbagai hal, mereka tidak khawatir gagal dan melakukan kesalahan. Mereka menjadi anak-anak yang pemberani dan mudah mengekspresikan dirinya. Kendatipun rumah menjadi sering berantakan, baju-baju kotor, mainan dan perabot banyak yang rusak, namun, mereka yakin bahwa orang tuanya selalu bisa menjadi tempat kembali kendatipun mereka melakukan kesalahan dan menyulitkannya. Dan ini meresap masuk ke dalam benak, mengendap dalam alam bawah sadar mereka. Masa kanak-kanak yang ceria, aktif, gesit adalah modal bagi kecerdasan mereka di masa depan.
Orang tua tidak membebani anak dengan ambisi pribadinya. Ambisi pribadi membuat orang tua lebih sulit untuk memberikan kasih sayang dan penerimaan yang tulus kepada anaknya. Ambisi tersebut menjadi tekanan dan menyempitkan ruang bagi tumbuh kembang anak-anaknya. Pengasuhan menjadi kehilangan sifatnya, yang seharusnya orang tualah yang menyimak dan menyesuaikan diri dengan keadaan anak-anaknya demi memberikan pola asuh yang pas malah menjadi anak yang harus mengasuh ambisi orang tua. Posisi menjadi terbalik dan anak tak akan mampu. Banyak sekali contoh untuk hal ini.
Sekitar lima tahun yang lalu ada sebuah berita yang cukup viral, bahwa di Cina ada seorang anak jenius yang sejak kecil menghabiskan waktunya untuk belajar dan belajar, ikut olimpiade matemika hingga menjadi mahasiswa doktoral matematika di usia belasan. Usia termuda untuk mahasiswa doktoral saat itu. Namun, pada akhirnya prestasi dan gelar akademik tersebut tak berguna, anak tersebut menjadi pengangguran dan bergantung secara finansial kepada orang tuanya. Ia berkata bahwa hal itu adalah hutang yang harus orang tuanya bayar kepadanya. Subhanallah.
Dalam buku yang berjudul, “The Drama of The Gifted Child : The Search for The True Self” karya Alice Miller seorang psikiatris Swiss menceritakan bahwa ada seorang ibu yang secara emosional tidak merasa aman dan menyandarkan keseimbangan emosinya pada tingkah laku tertentu anaknya. Namun, ia dapat menyembunyikan rasa tidak amannya tersebut di balik topeng sifat yang keras, otoriter, dan totalitarian. Di sini, anak-anaklah yang akhirnya menjadi “ibu” yang memberikan rasa nyaman, dukungan, dan keyakinan diri bagi ibu mereka. Namun, mereka tumbuh juga dengan jiwa yang kehilangan, yang kosong hingga saat dewasa yang menentukan, apakah mereka akan menerima rasa kehilangan itu dan mengobatinya dengan penerimaan diri yang baik atas kelebihan-kelebihan dirinya.
Yang terakhir, orang tua tidak memaki anak. Anak-anak merasakan kasih sayang Allah melalui kasih sayang orang tuanya. Akalnya belum mampu menjangkau bahwa ada Rabb Yang Maha Pengasih dan Penyayang yang menjadi tempat bersandar, tempat mengadu, dan Maha Pemaaf. Anak-anak akan sangat terluka jika menerima makian dari orang tuanya karena mereka belum mampu mengadu kepada Allah, mereka belum mampu meninjau ulang makian tersebut, yang tersisa hanya kesedihan dan luka yang dalam. Orang tua yang seharusnya menjadi sandaran jiwa anak dan pembimbing yang bisa menemani mereka meninjau ulang ketika mereka mendapat verbal bully dari luar malah kini menjadi pihak yang mem-bully-nya. Mereka kehilangan tempat berlindung yang aman dan nyaman.
Anak-anak yang tumbuh dalam makian akan mengembangkan mentalitas rendah diri. Mereka akan kesulitan melihat dengan jernih kelebihan dan kekurangan dirinya. Pandangannya bias, penuh dengan stigma-stigma negatif terhadap dirinya. Mereka kehilangan kemampuan menyadari potensi-potensi baik dalam dirinya, bahkan menjadi anak yang selalu curiga pada sekelilingnya, sulit mengikuti aturan dan cenderung pesimistis. Jika kekerasan ini berlangsung lebih parah, maka perasaan-perasaan terluka yang direpresi saat masa kanak-kanak tersebut dapat tanpa disadari memunculkan kehausan untuk membalas dendam di masa berikutnya. Manifestasi berupa aneka tindak kekerasan karena kesulitan meregulasi emosi.
Jadi, kasih sayang tanpa syarat dan penerimaan yang tulus ini menumbuhkan keyakinan yang paling mendasar dalam diri mereka bahwa mereka selalu disayangi, dilindungi, diperhatikan, ditanggapi, dihormati, dihargai dan diterima dengan sungguh-sungguh dan tulus apapun keadaan mereka, kapan pun juga. Mereka merasa aman secara fisik (safe) dan nyaman secara psikis (secure) untuk bertumbuh kembang dan mengekspresikan diri mereka. Inilah yang dinamakan basic trust.
Basic trust adalah modal untuk tumbuh menjadi manusia dewasa yang sehat secara mental, yang mampu menerima dirinya apa adanya, menyadari dan menerima kelebihan dan kekurangan dirinya. Mereka menerima kelebihan dirinya sebagai karunia untuk ia syukuri dan gunakan untuk kebermanfaatan dalam hidupnya dan kekurangan dirinya sebagai sarana untuk rendah hati. Penerimaan diri yang baik (right self acceptance) adalah kemampuan tertinggi mentalitas manusia. Semakin baik penerimaan dirinya maka akan semakin mandiri mentalnya, tidak mudah terombang-ambing omongan atau stigma manusia.
Sementara anak-anak yang tumbuh dalam tekanan psikologis, tidak aman secara fisik juga tidak nyaman secara psikis akan tumbuh dalam mode bertahan. Tumbuh kembangnya akan terganggu karena fokus dirinya, sel-sel tubuh dan jiwanya, bukan untuk berkembang melainkan untuk bertahan hidup. Jiwa mereka kosong dan akan terus mencari apa yang tidak mereka dapatkan dari orang tuanya, yakni kehadiran seseorang yang memperhatikan dan menanggapinya dengan serius.
Lebih lagi, memiliki basic trust pada masa kanak-kanak adalah modal untuk menjadi hamba Allah yang baik. Memiliki penerimaan diri yang baik, mentalitas yang kokoh, pikiran yang jernih, batin yang tenang dan lega membuat seseorang dekat dengan nilai-nilai kebaikan dan keadilan. Saat Islam datang, banyak sahabat yang masuk Islam karena merasa ajaran yang Rasulullah Saw bawa adalah ajaran yang dekat, sejalan sekaligus menyempurnakan nilai-nilai yang telah mereka pegang. Nilai-nilai kebaikan yang mereka dapatkan dari tradisi keluarganya. Namun, banyak kecelakaan-kecelakaan pengasuhan yang akhirnya membuat banyak anak-anak Muslim mengkhianati agamanya. Peristiwa-peristiwa traumatis akibat kekerasan verbal maupun non-verbal, penelantaran dan pengabaian, tuntutan ambisi pribadi orang tua saat mereka masih kanak-kanak membuat seorang anak membenci agama ayah ibunya semulia apapun ajaran yang orang tua mereka sampaikan.
Mungkin itu sebabnya Rasulullah SAW memberikan kabar gembira berupa rahmat Allah bagi orang tua yang membantu anak mereka untuk berbakti dan memberikan amaran bagi orang tua yang berlaku kasar kepada anak-anak balitanya bahwa apa yang mampu menghilangkan kekeruhan jiwa mereka akibat sikap kasar orang tua.
PR Berikutnya
Permasalahannya kemudian adalah ternyata banyak orang tua yang secara mental tidak siap menjadi orang tua. Mereka belum memiliki self acceptance yang baik, mentalitasnya tidak kokoh, mudah terombang-ambing oleh omongan orang, masih penasaran dengan kekosongan jiwa dan ambisi pribadi dan menderita berbagai gangguan mental. Mereka belum siap berkorban untuk turun memberikan pengasuhan dan penerimaan terbaik kepada anak-anaknya. Dalam artian apa yang dapat diberikan dan dikorbankan kepada anak-anaknya jika diri mereka sendiri saja tak punya. Seperti lingkaran setan, orang tua yang demikian, biasanya juga lahir dari kecelakaan-kecelakaan pengasuhan orang tuanya. Maka, mau tidak mau hal yang harus dilakukan adalah memutus mata rantai lingkaran setan tersebut.
Para orang tua sudah memiliki anak namun memiliki PR psikologis maka yang harus bersabar untuk tetap berkomitmen memegang tanggung jawab pengasuhan anak-anak mereka. Sebagai muslim kita memiliki keyakinan bahwa berbeda dengan anak-anak yang secara akal belum mampu bersandar dan mengadu kepada Allah, maka orang dewasa yang berakal mampu melakukannya. Rasa haus akan perhatian, kasih sayang, penghargaan, penghormatan, dan penerimaan yang sungguh-sungguh dan tulus semasa kanak-kanak harus berusaha mereka terima sebagai sebuah jalan hidup terbaik yang Allah tetapkan untuk mereka. Mensubstitusi rasa kehilangan itu dengan limpahan karunia Allah yang lain dan kasih sayang dan pengorbanan yang Rasulullah Saw curahkan kepada umatnya termasuk dirinya mampu memunculkan rasa diri berharga dan berarti. Allah menginginkan diri tetap hidup dengan beragam curahan karunianya, ini berarti Allah menyanyangi dan mengasihi diri dengan tidak main-main.
Mengadukan segala kekosongan jiwa, gangguan-gangguan mental yang menjelma menjadi berbagai penyakit hati dan mentaubatinya kepada Allah menjadi terapi yang sangat mujarab. Dalam sebuah ceramah berjudul “Cara Mengenal Diri”, Ust. Nouman Ali Khan memberikan nasihat bahwa dengan hidup dalam kesadaran untuk taat waktu demi waktu, Allah akan membuka dan membersihkan lapis-lapis kekeruhan jiwa kita yang bahkan para psikolog dan psikiatris pun tidak mampu membukanya. Ust. Nouman menukil ayat QS. Al Hasyr : 19
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” [QS. Al-Hasyr: 19]
Dengan berusaha taat termasuk bersabar dalam mengasuh anak-anak dan memenuhi kebutuhan fisik maupun emosi mereka, insya Allah dapat pula menjadi jalan mengenal diri lebih baik. Mengetahui kelemahan diri sehingga mampu mengevaluasi dan memperbaikinya. Seringkali, anak-anak mampu menekan saklar lampu pada ruang-ruang tergelap dalam diri orang tua. Dan tanpa disadari dalam 10-20 tahun perjalanan memiliki dan mengasuh anak-anak, diri menjelma menjadi sosok yang jauh lebih baik. []
*) Tulisan ini dipublikasikan pada Majalah Tabligh edisi Januari 2025.

