Perjalanan Makna Education, Parenting dan Tarbiyah

Artikel

Dalam sejarahnya, peradaban Barat memperkenalkan istilah “education” yang berasal dari kata educare; edu + care; educatio yang memiliki arti tumbuh kembang, menjaga, peduli, meningkatkan, membesarkan. Dari konsep-konsep inilah berkembang konsep pendidikan di Barat. Maka jika kita merujuk pada akar kata istilahnya, kita akan diarahkan ke konsep yang sejalan dengan makna tarbiyah. Makna istilah tarbiyah memang sama dengan makna edu-care; yakni menjaga, menumbuhkembangkan, dan memelihara.

Kita semua tahu bahwa pada awalnya, tidak ada yang bisa dipelajari dan diajarkan di Barat. Barat kosong dari ilmu dan wahyu. Maka education tidak menghasilkan konsep ilmu apapun. Sampai ada di antara anak-anak yang mengisi waktu luang mereka (schola) dengan mempelajari sesuatu. Tersebutlah pelajaran membaca, menulis, berhitung, sastra, dan berbagai jenis keterampilan hidup. Anak-anak mulai bersekolah. Lahirnya sekolah sebagai pelanjut dari education ternyata tidak selalu mulus dan seiring sejalan. Proses tumbuh kembang anak-anak, di banyak kasus, menjadi terancam.

Di Sparta pada masa Yunani, anak-anak diambil alih oleh pemerintahan polis sejak usia 7 tahun dan dikumpulkan di barak-barak sekolah. Sistem pendidikan dibuat untuk merampas pengasuhan oleh orang tua. Anak-anak ‘dididik’ untuk menjadi tentara; untuk bela negara. Di era modern, Prussia mendidik masyarakatnya untuk menjadi warga negara yang patuh. Tidak hanya angkatan bersenjata (tentara), mereka berhasil melahirkan angkatan kerja. Di bawah program “wajib sekolah”, kerajaan mengambil alih seluruh proses pendidikan masyarakat. Bagaimana dengan proses pengasuhan? Ketika anak-anak dipisahkan dari keluarga, tentu proses pengasuhan yang asli menjadi tidak berjalan. Setelah itu, muncul pengasuhan palsu di lembaga-lembaga pendidikan dibawah pengawasan negara.

Masyarakat di Barat kehilangan konsep tarbiyah. Anak-anak mereka tidak bisa tumbuh dan berkembang secara alamiah. Serangkaian kurikulum dibuat untuk ditempuh dalam waktu yang cukup lama. Nilai-nilai ditanamkan (ta’dib) oleh penyelenggara pendidikan secara terpusat agar bisa seragam. Bagaimana dengan peran dan tugas orang tua? Tugas mereka sudah selesai sampai anak mencapai pada apa yang disebut dalam psikologi kontemporer sebagai “Usia Sekolah”.

Education yang pada akhirnya disebut sebagai pendidikan, menjadi identik dengan persekolahan. Sebab tidak ada pengajaran lain di luar lembaga sekolah. Begitu juga tidak ada proses pengasuhan, karena mereka semua bersekolah. Semuanya ada di balik dinding sekolah.

Setelah mereka mulai sadar akan pentingnya pengasuhan/tarbiyah untuk tumbuh kembang anak, sebagian mereka ‘tidak rela’ menyerahkan anak mereka kepada sistem pendidikan. Muncul berbagai respon terhadap sistem pendidikan yang ada. Sebut saja  unschooling, homeeducation, homeschooling, dan mungkin ada istilah lainnya. Semuanya adalah upaya untuk meninggalkan sistem pendidikan persekolahan. Para orang tua ini mengambil alih tanggung jawab pendidikan anak-anak mereka. Karena mereka menganggap bahwa education adalah proses tumbuh kembang, sekolah tentu saja tidak bisa melakukan hal tersebut. Sekolah hanya bisa menanamkan nilai-nilai yang telah ditentukan dalam undang-undang negara.

Anak-anak yang tidak masuk dalam sistem persekolahan, mereka belajar di rumah atau di mana saja. Yang penting proses pendidikan terus berjalan. Mereka mengambil kursus, mengikuti kelas bimbingan belajar, program tutorial, dll. Bagaimana dengan proses pengasuhannya? Setelah sekian lama sistem persekolahan membuat orang tua lupa dan kehilangan rasa percaya diri untuk mengurus anak kandung mereka, sehingga meskipun mereka tidak menyerahkan anak-anak mereka kepada lembaga sekolah, mereka menyerahkannya kepada lembaga lain yang disebut sebagai pendidikan luar sekolah (PLS). Meskipun tidak menitipkan anak pada lembaga pendidikan formal, mereka menitipkan anak pada lembaga pendidikan non-formal (PNF).

Meskipun anak-anak telah berkumpul bersama orang tua mereka, ada kegelisahan dan kekosongan di keluarga. Kondisi ini melahirkan era baru dalam dunia pendidikan. Mereka menyebutnya dengan “Parenting; keorangtuaan. Ternyata menjadi orang tua adalah sesuatu yang harus diperjuangkan, dipelajari dan dilatih kembali.

Di dunia parenting inilah persoalan tumbuh kembang anak dibahas kembali. Masyarakat menemukan kembali konsep pengasuhan/tarbiyah yang lebih segar dan modern. Berbagai penelitian dilakukan, kelas-kelas pelatihan dibuka, dan seminar terkait parenting menjadi laris.

Perbedaan Pengasuhan dan Pendidikan

Hari ini, di saat peradaban Barat merasa kehilangan peran orang tua akibat agresifnya sistem pendidikan, mereka mulai mempopulerkan parenting. Sehingga proses pengasuhan anak yang mereka inginkan tercapai lebih optimal. Mereka menyadari bahwa sistem pendidikan tidak mungkin melakukan penjagaan atas tumbuh kembang anak-anak. Kepedulian, cinta, kasih sayang, dan perhatian, tidak mungkin dituntut dari lembaga pendidikan. Karena memang sejatinya, ia ada di lembaga pengasuhan; yakni KELUARGA.

Dalam peradaban Islam, sejak turunnya wahyu dan diajarkan oleh Nabi kepada para murid (Sahabat) beliau, proses pendidikan berjalan dengan ciri khas yang berbeda. Kata Nabi, “Adabani Rabbi, fa Ahsani Ta’dibi” ; Telah dididik aku oleh Rabb-ku, dengan sebaik-baik pendidikan.” Ini tidak sedang berbicara tentang tumbuh kembang Nabi yang memang senantiasa dijaga oleh Allah Yang Maha Rahman. Ini soal ajaran dan risalah yang disampaikan; ilmu yang datang kedalam jiwa Nabi. Setelah itu Nabi mengajarkan apa yang telah ia miliki, kepada para Sahabatnya. Inilah makna TA’DIB yang pada akhirnya membentuk sistem pendidikan Islam. Dari sini ilmu-ilmu berkembang. Mulai dari ilmu hadis, ilmu Al Qur’an, Fikih, Ushul Fikih, dst.

Pada konsep TARBIYAH, tidak ada aspek pengetahuan atau ilmu yang didatangkan dari luar. Jika pendidikan dimaknai sebagai tarbiyah, wajar saja jika ada yang mengatakan bahwa dalam pendidikan tidak boleh memaksakan sesuatu dari anak. Karena sifat dasar tarbiyah sama dengan educare, membiarkan tumbuh dan berkembang (dengan menjaganya). Metodenya adalah Inside-Out; DARI DALAM KE LUAR.

Sementara itu, konsep ta’dib justru memberikan wewenang ke pelaku (Mu’addib) untuk menyampaikan apa saja yang harus diterima oleh obyeknya. Dalam hal ini, pelaku/subyek tidak terlalu peduli oleh urusan penerima. Sampaikan walaupun satu ayat; sampaikan walaupun pahit. Metodenya adalah Outside-In; DARI LUAR KE DALAM.

Islam telah memiliki konsep yang lengkap. TARBIYAH yang merupakan kewajiban ORANG TUA, dan TA’DIB yang merupakan kewajiban AHLI ILMU.

Bagaimana dengan kita? Sebagai Orang tua yang berilmu, kita memiliki tanggung jawab keduanya! []

*) Dikutip dari Catatan Kuliah Homeschooling dan Pendidikan Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter
Pinterest
Instagram
Telegram