Pengantar Ke Alam Homeschool

Artikel

Banyak orang bertanya tentang apa itu Homeschooling (HS), kenapa memilih HS, dan bagaimana menjalani HS. Terkadang pertanyaan yang muncul agak ‘represif’ seperti Kenapa anaknya gak sekolah?”, atau Kok gak disekolahin?!”.

Saking horornya pertanyaan-pertanyaan tersebut, sampai-sampai para praktisi dan pegiat HS harus merumuskan alasan-alasan orang untuk memilih HS.

Jadi, HS itu apa? Mari kita lihat dari beberapa perspektif:

Pertama,  tidak sekolah itu secara historis kronologis adalah keadaan awal seorang anak. Jadi sebelum mutuskan untuk sekolah,  anak ada pada posisi tidak atau belum sekolah.

Jika demikian,  maka sebetulnya ‘jurang psikologis’ justru ada pada orang tua yang ingin memasukan anaknya ke sekolah. Orang tua butuh banyak informasi untuk memutuskan anaknya keluar dari posisi awal. Karena ingin bersekolah,  orang tua bimbang dan membutuhkan banyak informasi terkait sekolah.

Pertanyaan,  “Kenapa anaknya tidak sekolah?” Adalah pertanyaan yang kurang tepat dan bisa dibilang sesat. Seharusnya pertanyaannya adalah,  Kenapa mau sekolah?  Yakin mau disekolahin?”.

Orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya berarti sedang berusaha menjembatani jurang tadi. Setiap keputusan dalam hidup menimbulkan ‘jurang psikologis’. Pada akhirnya, ada orang tua berhasil melewati ‘jurang psikologis’ tadi,  sehingga tidak ragu lagi untuk memulai hidup bersekolah. Hukum asalnya mereka ragu-ragu. Setelah hilang keraguan dan yakin, barulah mereka bersekolah.

Yang belum mencicipi sekolah karena belum memutuskan, berbeda dengan yang sudah pernah bersekolah.

Mereka yang merasa salah jalan ketika memilih sekolah,  anak pulang dan kembali ke keadaan semula. Pertanyaannya adalah, “Apakah butuh alasan untuk pulang dan kembali ke rumah (tidak sekolah)?” Tidak perlu dijawab.

Kedua,  tidak sekolah bukan berarti tidak belajar.  Yang diwajibkan agama itu belajar,  bukan sekolah. Yang dibutuhkan akal itu belajar,  bukan sekolah. HS bukanlah sebuah kesibukan untuk tidak bersekolah, karena konsentrasi HS bukan pada hubungannya dengan sekolah. Bukan juga untuk berkompetisi dengan sekolah.

Konsentrasi HS itu pada bagaimana anak belajar. Dan luar biasanya,  anak belajar tanpa disuruh atau dipaksa. Bahkan dipaksa untuk tidak belajar pun anak pasti akan belajar. Kenapa?  Anak dilahirkan dengan segunung rasa ingin tahu. Minat belajar anak itu sangat tinggi,  selama minat itu tidak dihalangi atau ‘dibunuh’.

Sementara itu,  sekolah menganggap pengajaran sebagai aktivitas belajar. Atau, minimalnya  belajar dianggap sebagai konsekuensi logis (akibat) dari pengajaran.

Ketiga,  HS itu tidak sekolah sebagai kondisi awal.  Ia bukan sebagai alternatif. Karena diawal sudah jelas bahwa ia adalah keadaan yakin. Berbeda dengan orang yang ingin bersekolah. Sekolah membutuh keyakinan agar bisa mantap bersekolah.

Kaidahnya,  yang yakin tidak dikalahkan dengan yang ragu. [mrh]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
Facebook
Twitter
Pinterest
Instagram
Google+
Telegram