Sikap Seorang Muslim Terhadap Amanah

Sikap Seorang Muslim Terhadap Amanah

Apa yang Dimaksud Amanah?

Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada orang yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa:58). Terkadang ada seseorang yang mengamanatkan harta kepada Anda, dan terkadang amanat tersebut berupa agama, sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya, ”Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, namun semuanya enggan memikul amanat itu dan mereka khawatir akan menghianatinya. Dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab:72). Tentang hal ini, Rasulullah Saw. bersabda, “Sampaikanlah amanat kepada orang yang memberikan amanat kepada Anda. Dan janganlah berkhianat kepada orang yang telah mengkhianati Anda.

Hak Allah Terhadap Manusia

Diantara bentuk amanat yang lain adalah; Melaksanakan ketaatan, melakukan kewajiban, menerapkan hukum yang telah diturunkan Allah, berbakti kepada kedua orang tua, silaturahmi, ikhlas, jujur, dan menepati janji.

Hak Manusia Terhadap Manusia

Di antara bentuk amanah yang lain adalah; Tidak menggunjing orang lain dan tidak mengadu domba. Allah Swt. berfirman, “Dan janganlah menggunjing satu sama lain.” (QS. Al-Hujarat:12). Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menyebutkan, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Apakah kalian tahu apa yang dimaksud mengadu domba? Mengadu domba adalah menyebar keburukan seseorang di antara manusia.”

Jika Anda terbiasa menggunjing orang lain, maka bertanyalah pada diri Anda sendiri, “Apakah diri saya terbebas dari aib dan kekurangan? Mengapa saya berprasangka buruk kepada orang lain? Apakah saya tidak suka jika Allah menutupi aib-aib saya?” Maka dari itu, tinggalkanlah kebiasaan mengurusi orang lain dan sibukkanlah diri untuk memperbaiki diri sendiri.

Begitu juga, berprasangka baik adalah termasuk hak seseorang terhadap orang lain, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Saw. dalam haditsnya Imam Muslim, “Berhati-hatilah dengan prasangka, Sesungguhnya prasangka adalah kata-kata yang paling bohong. Dan janganlah kalian suka mendengarkan aib-aib orang lain yang disebarkan, mencari kekurangan (cacat) orang lain, saling berlomba dalam kemaksiyatan, saling dengki, saling membenci, dan saling bermusuhan. Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara.”

Mengekang Nafsu

Di antara sikap seorang muslim yang harus dilakukan terhadap orang lain adalah mengekang nafsu, memberikan maaf atas kesalahan orang-orang yang tidak tahu, tidak cepat memaki dan marah. Rasulullah Saw. telah mengajari Anda untuk mengekang kemarahan. Yaitu, ketika Anda marah di saat duduk, maka Anda dianjurkan untuk beridiri, atau berbaring, atau berwudhu. Hal ini untuk memadamkan  nyala api setan.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an, ”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran:133-134). Inilah sifat hamba-hamba Allah yang bertaqwa, di antaranya adalah memafkan kesalahan orang lain. Jadi, mulyakanlah jiwa Anda wahai saudaraku dengan memberikan maaf atas kesalahan orang lain.

Rasulullah Saw. bersabda, “Orang yang perkasa bukanlah orang yang memiliki kekuatan (berperang di medan perang). Akan tetapi, orang yang perkasa adalah orang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.

Itulah yang dimaksud dengan keperkasaan sejati. Dia mampu mengekang emosinya, mengendalikan tindakannya, mampu menahan amarahnya, dan dia tidak menjadi boneka yang mudah dipermainkan setan sesuai keinginannya.

Jadilah yang Terbaik

Wahai saudaraku seakidah, tidak pantas apabila Anda memutus tali persahabatan sesama saudara muslim. Jika tali persahabatan itu putus di sebabkan suatu masalah, maka tidak boleh lebih dari tiga hari. Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak ada halal bagi seorang muslim untuk meninggalkan (tidak mau bicara) dengan saudaranya  muslim lebih dari tiga malam.” Islam menghormati perasaan, dan Islam tidak membenarkan adanya “strata social” di antara orang-orang Islam. Tiga hari adalah waktu yang sangat baik untuk menentramkan hati. Kemudian Rasulullah melanjutkan sabdanya, “Mereka berdua ingin bertemu, akan tetapi terhalangi ini dan terhalangi itu. Orang yang paling baik di antara mereka berdua adalah orang yang memulai mengucapkan salam.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Amal  baik manusia diangkat ke langit setiap hari kamis dan senin. Maka, Allah memberikan ampunan pada hari itu kepada orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali orang yang antara dirinya dengan saudaranya sesama muslim terjadi permusuhan. Kemudian Allah berkata, ‘Tinggalkanlah kedua orang ini sampai mereka berbaikan kembali.”

Wahai saudaraku seiman dan seakidah, tidakkah Anda suka jika Allah mengampuni dosa-dosa Anda? Oleh karena itu, jika Anda bisa menjadi yang terbaik di antara dua orang, maka lakukanlah. Anda akan mendapatkan kemenangan disebabkan ampunan dari Allah, ketaatan kepada Allah, dan rahmat Allah.

Menyatukan Dua Hati

Muslim yang baik adalah, berusaha mendamaikan dua orang yang berseteru dan membuka pintu kebaikan di hadapan mereka. Allah Swt. berfirman, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa:114).

Jika seorang muslim mendapatkan dua saudaranya yang saling berseteru, maka hendaknya dia mengatakan pada saudaranya yang satu dengan kabar gembira, meskipun hal itu adalah bohong. Demikian juga, dia menceritakan kepada yang satunya lagi kabar kebaikan ini, supaya hati mereka berdua dapat menyatu. Hal seperti itu bukanlah suatu dosa, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Bukanlah pembohong orang yang mendamaikan antara manusia. Justru dengan kebohongan ini tumbuh suatu kebaikan.”

Apakah Anda melihat, bagaimana Allah melimpahkan hak-Nya sehingga Allah membolehkan kits berbohong untuk menyatukan hati dalam kebaikan? Alangkah mulya amalan ini, yaitu menyatukan hati orang-orang muslim agar mereka saling tolong-menolong dalam kebaikan untuk meraih ridha Allah yang Mahamulya.

Sumber: Bawalah Keluargamu ke Surga (Abdul Hamid Muhammad Ghanam) 

Related Posts
Sikap Seorang Muslim Terhadap Tetangga
Sikap Seorang Muslim yang Harus Dilakukan Terhadap Para Tetangga   Muslim dan Non Muslim Hak yang dimiliki para tetangga adalah -minimal- berbuat baik kepada mereka dan tidak menyakitinya. Allah Swt. berfirman, ”Sembahlah Allah dan ...
READ MORE
Lembaga Pendidikan Islam : Antara Kuttab dan Madrasah
Bismillahirrahmanirrahim PART 1 Setelah kita memahami ciri khusus pendidikan Islam yang bermakna penanaman ilmu (outside-in) ke dalam jiwa untuk menghasilkan manusia yang beradab, tentu kita juga harus mengetahui model pendidikan dalam bentuk ...
READ MORE
Konsep Ilmu Sebagai Landasan Kurikulum
Bismillah tawakaltu 'alallah... *PART 1* Secara umum, kita sering mendengar pula bahwa menuntut ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim, laki-laki dan perempuan. Akan tetapi kewajiban ini sebetulnya bukan hanya kewajiban yang ...
READ MORE
Pentingnya Beristri
Menyadari Pentingnya Hidup Beristri Sebelum duduk di kursi pelaminan, para calon suami muslim hendaknya telah memiliki kesadaran akan arti pentingnya hidup beristri. Memahami apa pengertian beristri, mengetahui bagaimana hukum beristri dan ...
READ MORE
Filsafat Pendidikan dalam Perspektif Sejarah : Antara Sekolah dan Homeschooling
✅-1- Perlu kiranya kita mengenal sejarah filosofi persekolahan. Karena saat ini kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang meyakini wajibnya sekolah Bahkan sebagian orang sudah sampai menganggap sekolah sebagai atau setingkat dengan ...
READ MORE
Sikap Seorang Muslim Di Saat Meminjam
Sikap Seorang Muslim yang Harus Dilakukan Di Saat Meminjam Tiga Hal yang Harus Dilakukan Terkadang, orang mau berinteraksi dengan orang lain di saat dirinya membutuhkan atau ingin meminjam uang. Muslim yang baik, ...
READ MORE
Sikap Seorang Muslim kepada Tamu
Sikap yang Harus Dilakukan Seorang Muslim kepada Tamu   Anda Akan Mendapatkan Anugerah yang Melimpah Ada orang yang bertamu ke rumah Anda. Kedatangan tamu adalah suatu kemulyaan dari Allah untuk membukakan jalan kebaikan ...
READ MORE
Perjalanan Makna Education, Parenting dan Tarbiyah
Oleh, Much Ridho* Dalam sejarahnya, peradaban Barat memperkenalkan istilah “education” yang berasal dari kata EDUCARE; EDU + CARE; EDUCATIO yang memiliki arti tumbuh-kembang, menjaga, peduli, meningkatkan, membesarkan. Dari konsep-konsep inilah berkembang konsep pendidikan ...
READ MORE
Sikap Seorang Muslim Terhadap Non Muslim
Persahabatan Bukan Menyakiti Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil ...
READ MORE
Sikap Seorang Muslim Terhadap Tetangga
Lembaga Pendidikan Islam : Antara Kuttab dan Madrasah
Konsep Ilmu Sebagai Landasan Kurikulum
Pentingnya Beristri
Filsafat Pendidikan dalam Perspektif Sejarah : Antara Sekolah
Sikap Seorang Muslim Di Saat Meminjam
Sikap Seorang Muslim kepada Tamu
Piagam Kongres 1 – Sekolah Rumah Keluarga Muslim
Perjalanan Makna Education, Parenting dan Tarbiyah
Sikap Seorang Muslim Terhadap Non Muslim

Related posts

Leave a Comment