Pentingnya Beristri

Menyadari Pentingnya Hidup Beristri

Sebelum duduk di kursi pelaminan, para calon suami muslim hendaknya telah memiliki kesadaran akan arti pentingnya hidup beristri. Memahami apa pengertian beristri, mengetahui bagaimana hukum beristri dan bagaimana seruan Islam tentang pentingnya hidup beristri.

Dengan modal kesadaran yang benar maka apa yang hendak dilakukan pun tidak akan menyimpang dari garis yang benar dan segala sesuatunya akan dijalankan dengan sepenuh hati. Sekali melangkah menuju jenjang pernikahan, ia benar-benar telah mempersiapkan segala sesuatu secara matang, baik fisik maupun mental.

Pengertian Hidup Beristri

 Hidup beristri, pengertiannya bukan sekedar duduk di pelaminan dengan disaksikan oleh banyak orang kemudian berbulan madu bersuka-ria serta mewujudkan berbagai impian indah belaka. Tidak! Ia merupakan jalinan hidup baru dengan segala kemungkinan resiko yang musti dihadapi.

Setelah bersanding di kursi pelaminan, sepasang pengantin akan mengalami kehidupan yang benar-benar baru, jauh dari kehidupan sebelumnya. Suami mulai dituntut tanggung jawabnya untuk memberikan nafkah lahir dan batin bagi istri, ketergantungannya terhadap kedua orang tua mulai dilepaskan, kebahagiaan memang siap menanti, tetapi harus disadari bahwa aneka konflik yang melilit pun senantiasa mengintai. Suami mulai dituntut tanggung jawabnya mengendalikan bahtera keluarga dengan aneka resiko kehidupan yang tidak boleh tidak harus dihadapi,suami akan dihadapkan dengan keluarga besar dari pihak istri yang belum tentu sama adat-istiadatnya, kemauannya, pola hidupnya dan seterusnya; suami juga dihadapkan pada sifat dan karakter istri yang sesungguhnya, yang belum tentu sama dengan yang sempat ditangkap dan disimpulkan sebelum menikah atau bahkan bisa jadi bertolak belakang; suami musti siap mengomandoi sebuah keluarga yang berdiri sendiri di tengah-tengah masyarakatnya, dan seterusnya. Itulah rona kehidupan beristri yang musti disadari oleh setiap calon suami!

Mempersunting wanita, berarti menyatukan dua watak yang berbeda, siap membahagiakan kehidupan istri, siap menjalin persaudaraan baru dengan keluarga besar dari pihak istri, memadukan dua kemampuan yang berbeda untuk bersama-sama memenuhi kehidupan lahir dan batin, siap merawat, membesarkan, membiayai dan mendidik anak-anak yang bakal lahir; bekerja sama untuk mentaati perintah agama dan menjauhi larangan-larangannya, bersama-sama mengatasi problematika hidup, dan bersama-sama membangun keluarga mandiri di tengah-tengah masyarakat, yakni keluarga yang maslahah, sakinah, mawaddah wa rahmah, keluarga yang berhias kedamaian penuh kasih dan sayang serta mendapatkan rahmat dari Yang  Maha Penyayang.

Hukum Beristri

Sebelum memberanikan diri bersanding di pelaminan dengan wanita pujaannya, para calon suami muslim hendaklah terlebih dahulu mengetahui betul tentang hukum menikah (beristri). Sehingga mereka dapat memposisikan dirinya pada hukum yang benar, apakah sudah termasuk wajib menikah, baru disunatkan, hanya diperbolehkan, dimakruhkan atau bahkan diharamkan.

Adapun hukum menikah menurut pandangan fiqh meliputi lima hukum, yakni:

a. Wajib

Seorang lelaki wajib menikah apabila telah mampu membiayai kehidupan berkeluarga dan dikhawatirkan akan mudah terjerumus ke jurang perzinaan jika tidak segera beristri.

b. Sunat

Seorang lelaki sunat menikah apabila telah berkeinginan serta telah memiliki kesiapan rohani dan jasmani yang cukup.

c. Ja’iz

Inilah asal hukum menikah. Lelaki pada dasarnya boleh menikah dan boleh pula tidak menikah. Baru setelah ada ‘illat (alasan) maka menikah bisa memiliki hukum wajib, sunat, makruh atau haram.

d. Makruh

Seorang lelaki makruh menikah apabila belum siap memberikan nafkah kepada istri, baik nafkah batin maupun lahir.

e. Haram

Seorang lelaki haram menikah apabila motifnya untuk menyakiti (membuat rugi) calon istri.

Dengan mengetahui kelima hukum tersebut, niscaya seorang lelaki akan dapat menempatkan posisi dirinya pada hukum yang benar. Sekiranya telah termasuk wajib menikah maka segeralah ia menikah. Karena dengan segera menikah berarti dia akan mendapatkan pahala dari melakukan hukum wajib. Kita telah maklum bahwa setiap hukum dalam Islam itu selalu memiliki konsekuensi dari sisi Al-Hakim (Allah Yang Maha Adil), dan konsekuensi itu tidak hanya diberikan di dunia melainkan juga di akhirat. Bagi yang menunaikan hukum wajib, seorang hamba akan mendapatkan pahala akhirat dan kebaikan duniawi. Maka bagi seorang lelaki muslim yang telah tergolong wajib menikah, kemudian ia segera menikah, niscaya ia akan mendapatkan pahala ukhrawi dan kebaikan duniawi. Sebaliknya, jika meninggalkannya niscaya ia akan mendapatkan siksa ukhrawi dan kerugian duniawi.

Demikian halnya bagi mereka yang telah tergolong disunatkan menikah. Sebaiknya mereka segera menikah, karena dengan menikah mereka akan mendapatkan pahala dan kebaikan duniawi dan ukhrawi, meskipun seandainya  meninggalkannya juga tidak berdosa. Dan bagi mereka yang masih tergolong makruh untuk menikah, maka sebaiknya jangan tergesa-gesa menikah. Lebih baik jika mereka menunda pernikahannya dengan mempersiapkan bekal yang cukup terlebih dahulu. Terlebih lagi bagi mereka yang tergolong haram beristri, hendaklah jauh-jauh menghindari pernikahan sebelum dapat membersihkan niatnya dalam menyunting seorang wanita.

Dengan demikian, maka sebaiknya para calon suami muslim memahami betul akan kelima hukum tersebut dan kemudian memposisikan dirinya secara tulus dan benar. Sehingga bangunan keluarga yang hendak didirikan akan membuahkan pahala yang besar di akhirat dan membawa kebaikan duniawi yang diidam-idamkan, terhindar dari ancaman siksa yang berat dan bahaya duniawi yang tidak diinginkan.

Seruan Pentingnya Hidup Beristri

 Hidup beristri sama artinya dengan hidup berkeluarga, karena dengan beristri berarti seorang lelaki akan membangun sebuah keluarga bersama istri tercintanya. Islam sangat menganjurkan dan menyerukan agar umatnya hidup berkeluarga yang ditempuh melalui pernikahan yang Islami. Hal ini merupakan sunnah Rasul yang harus diikuti oleh setiap muslim. Ia merupakan pembeda antara seorang muslim dengan non muslim. Dengan tegas Rasulullah saw menyatakan:

 “Nikah adalah sunnahku. Barang siapa yang membenci sunnahku, berarti ia tidak termasuk golonganku!” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Menyadari makna hadis ini, maka setiap muslim pasti mengindahkan pentingnya hidup berkeluarga yang dibangun melalui pernikahan. Allah SWT sendiri memerintahkan:

Maka nikahilah wanita yang menyenangkan hati kalian!” (QS. An-Nisa: 3)

Oleh karena itu, bagi para pemuda muslim yang telah mampu dan siap untuk membangun kehidupan berkeluarga, hendaklah mereka segera menikah. Rasulullah saw sendiri menyerukan,

“Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang telah siap (membangun keluarga), maka menikahlah!…” (HR. Jama’ah ahli hadis)

Islam memang menganjurkan kepada pemeluknya agar bergiat melakukan puasa sunat dan shalat malam. Tetapi semua itu memiliki aturan main tersendiri. Bukan berarti orang yang berpuasa terus-menerus setiap harinya dan bertekun mengerjakan shalat malam secara terus-menerus hingga mengabaikan pernikahan dan melupakan tidur itu merupakan perbuatan yang baik. Sama sekali tidak demikian! Justru yang demikian itu merupakan pantangan dalam Islam. Rasulullah saw secara tegas menolak ajaran yang demikian.

Sahabat Anas bin Malik pernah meriwayatkan bahwa pada suatu hari datang tiga kelompok sahabat ke kediaman istri-istri Rasulullah untuk mencari tahu tentang bagaimana cara Rasulullah saw beribadah. Dengan tujuan mereka dapat mengetahuinya dan kemudian dapat mengikuti jejaknya agar dosa-dosa mereka terampuni, baik dosa-dosa yang lampau maupun yang akan datang. Tetapi nampaknya mereka salah tanggap, sehingga salah satu kelompok menyatakan: “Ah kalau begitu aku akan mengerjakan shalat malam semalam suntuk untuk selamanya!” Kelompok lain berkata: “Aku akan berpuasa selamanya tanpa berbuka sehari pun!” Dan kelompok ketiga mengatakan: “Kalau aku akan menjauhi wanita dan takkan menikah selamanya!” Mendengar pernyataan-pernyataan mereka itu maka Rasulullah saw menghampiri mereka seraya bersabda:

”Kaliankah yang mengatakan begini dan begitu? (Hendak shalat malam terus-menerus, puasa terus-menerus dan menjauhi wanita). Maka demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa di antara kalian! Tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku tekun shalat (malam, tetapi juga) aku tidur dan menikahi wanita! (Ketahuilah), barang siapa yang membenci sunnahku (yang demikian itu), maka ia bukanlah golonganku!” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Itulah ajaran Rasulullah saw yang wajib kita indahkan. Islam menyerukan para pemeluknya agar hidup mulia dengan cara membangun keluarga melalui pernikahan. Kepada sekalian umatnya tanpa pandang bulu, Islam mengajarkan supaya menikah dan tegas-tegas melarang umatnya yang berniat hendak membujang untuk selamanya, walau hal itu demi memperbanyak ibadah. Sahabat Anas bin Malik ra pernah meriwayatkan sebuah hadis yang berbunyi:

“Rasulullah saw memerintahkan kepada kita agar menikah dan melarang kita hidup membujang dengan larangan yang keras.” (HR. Ahmad)

Namun demikian, seruan untuk membnagun kehidupan berkeluarga itu harus tetap memperhatikan aspek-aspek yang melingkupinya. Artinya, sebelum kita menikah, kita tetap harus mempersiapkan segala sesuatunya dan memperhatikan pula sejauh mana kemampuan serta kesipaan kita untuk membangun sebuah keluarga. Terlebih bagi para calon suami yang nota bene adalah calon tumpuan hidup bagi calon istri dan anak-anaknya nanti. Kita tidak boleh bertindak gegabah untuk segera menikah, jika kesiapannya belum memadai. Berbeda halnya dengan orang yang telah benar-benar siap dan termasuk kategori wajib menikah tetapi enggan menikah, maka orang yang demikian tentulah bukan umat Rasulullah yang baik. Beliau sendiri memberikan sindiran yang amat tajam dalam sabdanya:

“Barang siapa yang telah memiliki kelapangan rizqi tetapi enggan menikah, maka ia tidak termasuk golonganku!” (HR. ath-Thabrani)

Dengan demikian jelas bahwa hidup berkeluarga yang dibangun melalui pernikahan merupakan seruan Islam yang wajib diindahkan oleh setiap muslim. Tetapi mengenai kapan pelaksanaannya harus disesuaikan dengan kesiapan jasmani dan rohani yang memadai. Kita dilarang hidup membujang tetapi juga tidak seharusnya bersikap gegabah untuk cepat-cepat menikah tanpa diimbangi dengan persiapan yang matang.[]

Sumber: Membahagiakan Istri Sejak Malam Pertama (M. Nipan Abdul Halim) 

Related Posts
Sikap Seorang Muslim Terhadap Non Muslim
Persahabatan Bukan Menyakiti Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil ...
READ MORE
Sikap Seorang Muslim Di Saat Meminjam
Sikap Seorang Muslim yang Harus Dilakukan Di Saat Meminjam Tiga Hal yang Harus Dilakukan Terkadang, orang mau berinteraksi dengan orang lain di saat dirinya membutuhkan atau ingin meminjam uang. Muslim yang baik, ...
READ MORE
Sikap Seorang Muslim Terhadap Tetangga
Sikap Seorang Muslim yang Harus Dilakukan Terhadap Para Tetangga   Muslim dan Non Muslim Hak yang dimiliki para tetangga adalah -minimal- berbuat baik kepada mereka dan tidak menyakitinya. Allah Swt. berfirman, ”Sembahlah Allah dan ...
READ MORE
Dandelion seeds in the morning sunlight blowing away across a fresh green background
Sikap Seorang Muslim Terhadap Amanah Apa yang Dimaksud Amanah? Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada orang yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa:58). Terkadang ada seseorang yang mengamanatkan harta kepada ...
READ MORE
Perjalanan Makna Education, Parenting dan Tarbiyah
Oleh, Much Ridho* Dalam sejarahnya, peradaban Barat memperkenalkan istilah “education” yang berasal dari kata EDUCARE; EDU + CARE; EDUCATIO yang memiliki arti tumbuh-kembang, menjaga, peduli, meningkatkan, membesarkan. Dari konsep-konsep inilah berkembang konsep pendidikan ...
READ MORE
Sikap Seorang Muslim kepada Tamu
Sikap yang Harus Dilakukan Seorang Muslim kepada Tamu   Anda Akan Mendapatkan Anugerah yang Melimpah Ada orang yang bertamu ke rumah Anda. Kedatangan tamu adalah suatu kemulyaan dari Allah untuk membukakan jalan kebaikan ...
READ MORE
Sikap Seorang Muslim Terhadap Non Muslim
Piagam Kongres 1 – Sekolah Rumah Keluarga Muslim
Sikap Seorang Muslim Di Saat Meminjam
Sikap Seorang Muslim Terhadap Tetangga
Sikap Seorang Muslim Terhadap Amanah
Perjalanan Makna Education, Parenting dan Tarbiyah
Sikap Seorang Muslim kepada Tamu

Related posts

Leave a Comment