Perjalanan Makna Education, Parenting dan Tarbiyah

Oleh, Much Ridho*

Dalam sejarahnya, peradaban Barat memperkenalkan istilah “education” yang berasal dari kata EDUCARE; EDU + CARE; EDUCATIO yang memiliki arti tumbuh-kembang, menjaga, peduli, meningkatkan, membesarkan. Dari konsep-konsep inilah berkembang konsep pendidikan di Barat. Maka jika kita merujuk pada akar kata istilahnya, kita akan diarahkan ke konsep yang sejalan dengan makna TARBIYAH. Makna istilah tarbiyah memang sama dengan makna edu-care; yakni menjaga, tumbuh-kembang, dan memelihara.

Kita semua tahu bahwa tidak ada ajaran yang bisa dipelajari dan diajarkan di Barat. Maka education tidak menghasilkan konsep ilmu apapun. Sampai ada diantara anak-anak yang mengisi waktu luang mereka (schola) dengan mempelajari sesuatu. Tersebutlah pelajaran membaca, menulis, berhitung, sastra, dan berbagai jenis keterampilan hidup. Anak-anak mulai bersekolah. Lahirnya sekolah sebagai pelanjut dari education ternyata tidak selalu mulus dan seiring-sejalan. Proses tumbuh-kembang anak-anak, dibanyak kasus, menjadi terancam.

Di Sparta pada masa Yunani, anak-anak diambil alih oleh pemerintahan polis sejak usia 7 tahun dan dikumpulkan dibarak-barak sekolah. Sistem pendidikan dibuat untuk merampas pengasuhan oleh orang tua. Anak-anak dididik untuk menjadi tentara. Untuk bela negara. Andai saja dulu di Sparta ada sosial media, tentu generasi muda disana akan ramai-ramai menulis hastag “Aku Adalah Sparta” sebagai kampanye penguatan terhadap negara.

Di era modern, Prussia mendidik masyarakatnya untuk menjadi warga negara yang patuh. Tidak hanya angkatan bersenjata (tentara), mereka berhasil melahirkan angkatan kerja. Dibawah program “wajib sekolah”, kerajaan mengambil alih seluruh proses pendidikan masyarakat. Bagaimana dengan proses pengasuhan? Tentu saja sudah terampas dan terhempas, entah kemana.

Masyarakat di Barat kehilangan konsep tarbiyah. Anak-anak mereka tidak bisa tumbuh-berkembang secara alamiah. Serangkaian kurikulum dibuat untuk ditempuh dalam waktu yang cukup lama. Nilai-nilai ditanamkan (ta’dib) oleh penyelenggara pendidikan secara terpusat agar bisa seragam. Bagaimana dengan peran dan tugas orang tua? Tugas mereka sudah selesai sampai anak mencapai pada apa yang disebut dalam psikologi kontemporer sebagai “Usia Sekolah”.

Education yang pada akhirnya disebut sebagai pendidikan, menjadi identik dengan persekolahan. Sebab tidak ada pengajaran lain diluar sekolah. Begitu juga tidak ada proses pengasuhan, karena mereka semua bersekolah. Semuanya ada dibalik dinding sekolah.

Setelah itu, mereka mulai sadar akan pentingnya tarbiyah untuk tumbuh-kembangnya anak. Sebagian mereka tidak ‘rela’ menyerahkan anak mereka kepada sistem pendidikan. Muncul berbagai respon terhadap sistem pendidikan yang ada. Sebut saja deschooling, unschooling, homeeducation, homeschooling, dan mungkin ada istilah lainnya. Semuanya adalah upaya untuk meninggalkan sistem pendidikan persekolahan. Para orang tua ini mengambil alih tanggung jawab pendidikan anak-anak mereka. Karena mereka menganggap bahwa education adalah proses tumbuh-kembang, sekolah tentu saja tidak bisa melakukan hal tersebut. Sekolah hanya bisa menanamkan nilai-nilai yang telah ditentukan dalam Undang-Undang negara.

Anak-anak yang tidak masuk dalam sistem persekolahan, mereka belajar dirumah atau dimana saja. Yang penting proses pendidikan terus berjalan. Mereka mengambil kursus, mengikuti kelas bimbingan belajar, program tutorial, dll. Bagaimana dengan proses pengasuhannya? Setelah sekian lama, orang tua lupa dan dibuat kehilangan rasa percaya diri untuk mengurus anak kandung mereka. Mereka terbiasa menyerahkan anak mereka. Jadi meskipun tidak diserahkan kepada pendidikan sekolah, mereka menyerahkannya kepada pendidikan luar sekolah (PLS). Meskipun tidak menitipkan anak pada lembaga pendidikan formal, mereka menitipkan anak pada lembaga pendidikan non-formal (PNF).

Meskipun anak-anak telah berkumpul Bersama oran tua mereka, ada kegelisahan dan kekosongan di keluarga. Kondisi ini melahirkan era baru dalam dunia pendidikan. Mereka menyebutnya dengan “Parenting”; kerorangtuaan. Ternyata menjadi orang tua adalah sesuatu yang harus diperjuangkan, dipelajari dan dilatih kembali.

Di dunia parenting inilah persoalan tumbuh-kembang anak dibahas kembali. Masyarakat menemukan kembali konsep tarbiyah yang lebih segar dan modern. Berbagai penelitian dilakukan, kelas-kelas pelatihan dibuka, dan seminar terkait parenting menjadi laris.

Hari ini, disaat peradaban Barat merasa kehilangan peran orang tua akibat agresifnya sistem pendidikan, mereka mulai mempopulerkan PARENTING (Keorangtuaan). Sehingga proses pengasuhan anak yang mereka inginkan tercapai lebih optimal. Mereka menyadari bahwa sistem pendidikan tidak mungkin melakukan penjagaan atas tumbuh-kembangnya anak-anak. Kepedulian, cinta, kasih sayang, dan perhatian, tidak mungkin dituntut dari lembaga pendidikan. Karena memang sejatinya, ia ada dilembaga pengasuhan; yakni KELUARGA.

Dalam peradaban Islam, sejak turunnya wahyu dan diajarkan oleh Nabi kepada para murid (Sahabat) beliau proses pendidikan berjalan dengan ciri khas yang berbeda. Kata Nabi, “Adabani Rabbi, fa Ahsani Ta’dibi” ; Telah didik aku oleh Rabb-ku, dengan sebaik-baik pendidikan.” Ini tidak sedang berbicara tentang tumbuh-kembangnya Nabi yang memang senantiasa dijaga oleh Allah Yang Maha Rahman. Ini soal ajaran dan risalah yang disampaikan; ilmu yang datang kedalam jiwa Nabi. Setelah itu Nabi mengajarkan apa yang telah ia miliki, kepada para Sahabatnya. Inilah makna TA’DIB yang pada akhirnya membentuk sistem pendidikan Islam. Dari sini ilmu-ilmu berkembang. Mulai dari ilmu hadis, ilmu Al Qur’an, Fikih, Ushul Fikih, dst.

Pada konsep TARBIYAH, tidak ada aspek pengetahuan atau ilmu yang didatangkan dari luar. Wajar saja jika ada yang mengatakan bahwa dalam pendidikan tidak boleh memaksakan sesuatu dari anak. Karena sifat dasar TARBIYAH sama dengan EDUCARE, membiarkan tumbuh dan berkembang (dengan menjaganya). Metodenya adalah Inside-Out; DARI DALAM – KELUAR.

Sementara itu, konsep TA’DIB justru memberikan wewenang ke pelaku (Mu’addib) untuk menyampaikan apa saja yang harus diterima oleh obyeknya. Dalam hal ini, pelaku/subyek tidak terlalu peduli oleh urusan penerima. Sampaikan walaupun satu ayat; sampaikan walaupun pahit. Metodenya adalah Outside-In; DARI LUAR -KEDALAM.

Islam telah memiliki konsep yang lengkap. TARBIYAH yang merupakan kewajiban ORANG TUA, dan TA’DIB yang merupakan kewajiban AHLI ILMU.

Bagaimana dengan kita? Sebagai Orang tua yang berilmu, kita memiliki tanggung jawab keduanya! []

 

*) Founder Komunitas Homeschooling Keluarga Muslim; Kandidat Doktor Pendidikan Islam UIKA Bogor; Peserta Program Kaderisasi Seribu Ulama BAZNAS

**) Ditulis 9 Juli 2016 saat absen dari #AksiBelaUlama #ABU96 

Related Posts
Konsep Pendidikan Islam : Antara Tarbiyah dan Ta’dib
Part 1 Menurut Naquib Al-Attas, pendidikan adalah suatu proses penanaman sesuatu ke dalam diri manusia. "Suatu proses" = mengacu pada metode dan sistem untuk menanamkan apa yang sebut sebagai "pendidikan" secara bertahap. ...
READ MORE
Pengantar Memahami Pendidikan Berbasis Masyarakat
-1- Kita telah mengetahui sejarah singkat munculnya sistem persekolahan dan "Wajib Sekolah". Dari sana kita tahu bahwa semakin hari, masyarakat semakin dibuat tergantung oleh pendidikan formal dari pemerintah. Sampai tiba masanya ...
READ MORE
Sikap Seorang Muslim kepada Tamu
Sikap yang Harus Dilakukan Seorang Muslim kepada Tamu   Anda Akan Mendapatkan Anugerah yang Melimpah Ada orang yang bertamu ke rumah Anda. Kedatangan tamu adalah suatu kemulyaan dari Allah untuk membukakan jalan kebaikan ...
READ MORE
Pentingnya Beristri
Menyadari Pentingnya Hidup Beristri Sebelum duduk di kursi pelaminan, para calon suami muslim hendaknya telah memiliki kesadaran akan arti pentingnya hidup beristri. Memahami apa pengertian beristri, mengetahui bagaimana hukum beristri dan ...
READ MORE
Sikap Seorang Muslim Terhadap Tetangga
Sikap Seorang Muslim yang Harus Dilakukan Terhadap Para Tetangga   Muslim dan Non Muslim Hak yang dimiliki para tetangga adalah -minimal- berbuat baik kepada mereka dan tidak menyakitinya. Allah Swt. berfirman, ”Sembahlah Allah dan ...
READ MORE
Pendidikan Nasional,  Wajib Sekolah, dan Identitas Bangsa
Oleh: Muchamad Ridho Hidayat (Kandidat Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor)  Banyak yang percaya, bahwa masalah suatu negeri sangat bergantung pada pendidikan masyarakatnya. Asumsi itu menjadi argumentasi untuk menggagas dan memperkuat ...
READ MORE
Dandelion seeds in the morning sunlight blowing away across a fresh green background
Sikap Seorang Muslim Terhadap Amanah Apa yang Dimaksud Amanah? Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada orang yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa:58). Terkadang ada seseorang yang mengamanatkan harta kepada ...
READ MORE
Sikap Seorang Muslim Terhadap Non Muslim
Persahabatan Bukan Menyakiti Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil ...
READ MORE
Konsep Ilmu Sebagai Landasan Kurikulum
Bismillah tawakaltu 'alallah... *PART 1* Secara umum, kita sering mendengar pula bahwa menuntut ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim, laki-laki dan perempuan. Akan tetapi kewajiban ini sebetulnya bukan hanya kewajiban yang ...
READ MORE
Sikap Seorang Muslim Di Saat Meminjam
Sikap Seorang Muslim yang Harus Dilakukan Di Saat Meminjam Tiga Hal yang Harus Dilakukan Terkadang, orang mau berinteraksi dengan orang lain di saat dirinya membutuhkan atau ingin meminjam uang. Muslim yang baik, ...
READ MORE
Konsep Pendidikan Islam : Antara Tarbiyah dan Ta’dib
Pengantar Memahami Pendidikan Berbasis Masyarakat
Sikap Seorang Muslim kepada Tamu
Pentingnya Beristri
Sikap Seorang Muslim Terhadap Tetangga
Pendidikan Nasional, Wajib Sekolah, dan Identitas Bangsa
Sikap Seorang Muslim Terhadap Amanah
Sikap Seorang Muslim Terhadap Non Muslim
Konsep Ilmu Sebagai Landasan Kurikulum
Sikap Seorang Muslim Di Saat Meminjam

Related posts

Leave a Comment